Rupiah Melemah, Bank Indonesia Didorong Naikkan Suku Bunga Lagi

Kompas.com - 04/10/2018, 17:37 WIB
Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). KOMPAS/PRIYOMBODOPetugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tekanan terhadap rupiah semakin dalam. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) rupiah berada pada posisi Rp 15.133 per dollar AS. Secara tahunan, depresiasi rupiah telah mencapai 11,74 persen.

Adapun berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot diperdagangkan pada Rp 15.179 per dollar AS atau telah terdepresiasi 11,98 persen secata tahunan.

Ekonom Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko menjelaskan, seharusnya depresiasi rupiah bsia dijaga sebesar 10 persen. Sebab jika sudah melebihi 10 persen, maka rupiah akan semakin rentan terhadap tekanan eksternal yang sangat kuat.

"Sekarang ini tekanan eksternal kuat sekali. Sehingga kalau mau dibilang benchmark-nya itu 10 persen untuk depresiasi. Tapi kalau sudah di atas 10 persen tekanannya agak terlalu kuat," ujar dia kepada Kompas.com, Kamis (4/10/2018).

Baca juga: Dampak Pelemahan Rupiah terhadap APBN Masih Bisa Dikendalikan

Menurut dia, depresiasi rupiah yang sudah cukup dalam ini harus segera diatasi. Cara paling mudah sebut nya, adalah Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga, kemudian memberikan berbagai pelonggaran transaksi di pasar keuangan dengan instrumen-instrumen baru, seperti domestic non deliverable forward (DNDF) yang telah dilakukan oleh BI.

"Kalau itu belum juga bisa, ya mau enggak mau (suku bunga) dinaikkan lagi," ujar dia.

Dia mencontohkan, ketika tahun 2013 lalu, suku bunga kebijakan BI mencapai 7,5 persen dengan tingkat inflasi yang juga tinggi akibat naiknya harga BBM.

Sementara untuk tahun ini BI menurut dia, masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga hingga 6 persen.

Dia menjelaskan, Indonesia saat ini masih diuntungkan dengan rendahnya inflasi. Adapun posisi untuk inflasi tahun kalender September 2018 (September 2018 terhadap Desember 2017) tercatat sebesar 1,94 persen. Sedangkan inflasi dari tahun ke tahun (September 2018 terhadap September 2017) sebesar 2,88 persen.Hingga akhir tahun, inflasi ditargetkan mencapi 3,5 plus minus 1 persen. Sementara tingkat inflasi pada tahun 2013 lalu mencapai 8,38 persen.

"Karena ada kenaikan BBM yang harusnya sekarang ini kalau mau refer situasi saat ini yang baik dilakukan adalah menaikkan harga BBM. Konsumsinya enggak akan turun signifikan, tapi termitigasi," kata Prasetyantoko.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X