BPH Migas Imbau Korban Bencana Sulteng Tidak Beli BBM dengan Jeriken - Kompas.com

BPH Migas Imbau Korban Bencana Sulteng Tidak Beli BBM dengan Jeriken

Kompas.com - 08/10/2018, 05:10 WIB
Petugas memeriksa sejumlah barang sebelum dikirim untuk korban bencana alam yang terjadi di Palu dan Donggala  di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (4/10/2018). PT Pertamina 
mengirimkan 80 unit SPBU portable serta sejumlah perlengkapan logistik dan obat-obatan yang berasal dari unit operasi dan anak perusahaan BUMN lainnya.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Petugas memeriksa sejumlah barang sebelum dikirim untuk korban bencana alam yang terjadi di Palu dan Donggala di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (4/10/2018). PT Pertamina mengirimkan 80 unit SPBU portable serta sejumlah perlengkapan logistik dan obat-obatan yang berasal dari unit operasi dan anak perusahaan BUMN lainnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Hilir Minyak dan Gas Bumi ( BPH Migas) mengimbau korban bencana Sulawesi Tengah tidak membeli mapun mengisi bahan bakar minyak dengan jeriken.

Kepala BPH Migas Fansurullah Asa mengatakan, pengisian BBM dengan jeriken memiliki risiko besar terbakar. Imbauan tersebut mulai berlaku sejak Senin (8/10/2018) ini.

"Kami mengimbau masyarakat korban bencana gempa dan tsunami untuk tidak mengisi BBM di semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Sulawesi Tengah dengan jeriken karena mudah menimbulkan kebakaran," ujar Fansurullah dalam keterangan tertulis, Minggu (7/10/2018).

Fansurullah mengatakan, selain mempertimbangkan keselamatan masyarakat, imbauan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada bahwa BBM yang ada di SPBU hanya diperuntukkan untuk konsumen akhir. "Tidak boleh BBM di SPBU diperjualbelikan lagi," ucap Fansurullah.

Baca juga: Renovasi 23.000 Rumah Korban Gempa Lombok, Pemerintah Kucurkan Rp 500 Miliar

Pasal 18 Ayat 2 Peraturan Presiden (Perpres) Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual BBM menyebutkan, masyarakat diimbau tidak menimbun dan/atau mengumpulkan BBM di SPBU dengan menggunakan jerigen, drum maupun media lainnya. BBM di SPBU hanya boleh dikonsumsi oleh kendaraan bermotor roda 2 dan 4 serta berplat kuning.

Dalam hal ini, kata Fansurullah, pemerintah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menindak tegas semua pihak yang mengabaikan imbauan tersebut.

"Sesuai dengan MoU yang pernah kita lakukan dengan kepolisian, BPH Migas meminta bantuan pihak Kepolisian di daerah Kota Palu dan Donggala agar melakukan tindakan preemptive, preventif, dan tindakan hukum apabila sangat diperlukan," kata dia. 

Meski demikian, Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang untuk mendapatkan BBM. Fansurullah memastikan, stok BBM di Sulawesi Tengah masih aman.

"Pemerintah akan kami terus mengoptimalisasikan perbaikan dalam mengembalikan dan menjamin ketersediaan dan pendistribusian BBM bagi masyarakat," kata dia.

Hingga saat ini, sebanyak 15 dari 17 SPBU di Kota Palu, 3 dari 4 SPBU di Kabupaten Donggala, dan 1 dari 2 SBPU di Sigi sudah bisa beroperasi untuk melayani masyarakat sekitar. Tak hanya itu, Pemerintah melalui PT Pertamina pun menyiapkan 41 dispenser portable dan 10 mobil dispenser yang siap untuk melayani masyakat.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Close Ads X