Bukan Tambah Utang, Ini Keuntungan Jadi Tuan Rumah Pertemuan IMF-Bank Dunia

Kompas.com - 08/10/2018, 11:12 WIB
Chatib Basri usai menjadi pembicara pada acara Disruptif Ekonomi Digital di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (5/1/2018). KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTOChatib Basri usai menjadi pembicara pada acara Disruptif Ekonomi Digital di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (5/1/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksanaan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional ( IMF)- Bank Dunia di Bali ternyata tak melulu mendapat tanggapan positif. Sejumlah politisi menetang pelaksanaannya karena dianggap butuh biaya mahal untuk persiapannya. Bahkan, di media sosial beredar isu bahwa Indonesia sebagai tuan rumah memanfaatkanya untuk menambah utang.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, melalui akun Twitter @ChatibBasri, menyanggah isu tersebut.

"Ada pertanyaan apakah dengan pertemuan tahunan tujuannya untuk meminta tambahan utang? Jawabannya sama sekali tidak," tweet Chatib yang dia tulis pada Minggu (7/10/2018).

Chatib mengatakan, untuk meminta tambahan utang tak perlu menjadi tuan rumah. Berbeda kasus dengan Argentina yag memang mengajukan utang ke IMF karena krisis yang melanda tahun ini.

Baca juga: Menko Luhut: Pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali Terbesar Sepanjang Sejarah

Chatib mengatakan, Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah pertemuan itu sejak September 2014, yang mana saat itu Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyo masih memimpin. Kemudian baru resmi dipilih menjadi tuan rumah pada Oktober 2015 saat sudah berganti kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Chatib mengakui proses seleksi menjadi tuan rumah tidak mudah. IMF-WBG melihat dulu kelayakan negara-negara yang mengajukan. Di Asia, baru ada empat negara yang jadi tuan rumah, termasuk Indonesia, yakni Filippina, Singapura, dan Thailand.

Mengapa pemerintah saat itu memperjuangkan agar Indonesia menjadi tuan rumah?

Chatib mengatakan, ada sejumlah keuntungan yang bisa diperoleh Indonesia karena ketempatan hajatan internasional itu.

"Di dalam pertemuan ini dibahas situasi ekonomi dunia, diskusi mengenai kebijakan negara-negara, perkembangan teknologi, dan sebagainya. Indonesia bisa memanfaatkan itu untuk komunikasi dan memasukkan idenya," cuit Chatib.

Contohnya, kata Chatib, saat terjadi taper tantrum tahun 2013, mata uang beberapa negara, termasuk rupiah, melemah akibat rencana The Fed mengakhiri kebijakan ekspansi moneternya. Indonesia pun menyampaikan perhatiannya ke The Fed.

Bersama Gubernur Rajan dari India saat itu, dalam pertemuan terbatas, Chatib meminta The Fed melakukan komunikasi dan mempertimbangkan dampak kebijakannya pada emerging economies. Saat itu, IMF mendukung Indonesia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X