Rupiah Tembus Rp 15.200 Per Dollar AS, Ini Alasannya

Kompas.com - 08/10/2018, 17:12 WIB
Ilustrasi rupiah dan dollar AS THINKSTOCKSIlustrasi rupiah dan dollar AS

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali melemah dan menembus level Rp 15.217 per dollar AS di pasar spot Bloomberg. Angka tersebut terkoreksi 0,23 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat (5/10/2018).

VP Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, melemahnya rupiah merupakan dampak dari tren menguatnya dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia akibat kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat, US Treasury, dengan tenor 10 tahun yang meningkat signifikan menjadi 3,23 persen atau meningkat sekitar 17 basis poin (bps) dalam sepekan.

"Kenaikan US Treasury yield ditopang oleh komentar hawkish dari Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang mengatakan bahwa propek ekonomi AS sangat positif dan suku bunga kebijakan Fed diperkirakan akan naik di atas level 3 persen dalam jangka panjangnya," jelas Josua kepada Kompas.com, Senin (8/10/2018).

Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan tren yang cenderung positif seperti tingkat pengangguran di September 2018 yang turun menjadi 3,7 persen, level terendah sejak tahun 1970. Selain itu, tingkat pendapatan pada bulan September juga menunjukkan tren yang lebih baik dibanding bulan sebelumnya.

Meskipun total pekerjaan non farm payroll (NFP) AS tercatat menurun menjadi 134.000 dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 201.000.

"Tren positif data tenaga kerja AS mengonfirmasi pernyataan Powell sebelumnya bahwa kondisi ekonomi AS cenderung membaik dan berpotensi mendorong inflasi sehingga mendukung kenaikan suku bunga AS lebih agresif dalam jangka pendek ini," jelas Josua.

Adapun dirinya memroyeksi awal pekan ini rupiah akan melemah 0,41 persen dan diperdagangkan di level Rp 15.190 hingga Rp 15.260 per dollar AS. Sementara pekan lalu, rupiah telah terdepresiasi hingga 1,84 persen.

Menurutnya, sebagian besar mata uang negara Asia juga tertekan pasca keputusan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) yang memangkas giro wajib minimum sebesar 1 persen. Pelonggaran kebijakan moneter PBoC tersebut ditujukan untuk membatasi perlambatan ekonomi China yang didorong oleh kebijakan proteksionisme pemerintah AS.

"Selain itu tekanan terhadap mata uang negara Afrika Selatan terkait risiko politik juga turut membebani sebagian besar mata uang negara berkembang termasuk Rupiah," ujar Josua.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X