Memahami Rupiah Lewat Pendekatan Aeronautical Habibie - Kompas.com

Memahami Rupiah Lewat Pendekatan Aeronautical Habibie

Kompas.com - 09/10/2018, 13:04 WIB
Mantan Presiden BJ Habibie meninggalkan lokasi usai sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2017). Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato, yakni pidato kenegaraan dalam rangka Hari Ulang Tahun RI ke 73.

KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL Mantan Presiden BJ Habibie meninggalkan lokasi usai sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2018 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2017). Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato, yakni pidato kenegaraan dalam rangka Hari Ulang Tahun RI ke 73.

KOMPAS.com - Kondisi rupiah masih terus tertekan hingga melemah menembus posisi Rp 15.200 per dollar AS. Padahal Bank Indonesia telah menggelontorkan begitu banyak cadangan devisa untuk mengangkat mata uang Garuda tersebut.

Tengok aja cadangan devisa pada Januari 2018 masih sebesar 132 miliar dollar AS. Per September 2017, angkanya menyusut tajam menjadi 115 miliar dollar AS.

Apakah gelontoran uang itu membuat rupiah menguat? Faktanya rupiah masih melemah. Membaiknya kondisi ekonomi AS membuat dollar AS kian perkasa, tak hanya terhadap rupiah, namun juga berbagai mata uang negara lain.

Di tengah kondisi itu, beberapa pihak mulai cemas. Pengusaha yang masih bergantung kepada barang impor sudah pasti terpukul oleh pelemahan rupiah.

Baca juga: Rini: Pelemahan Rupiah Bisa Menarik Investor Asing

Beberapa ekonom meyakini tekanan kepada rupiah belum akan usai, paling tidak hingga akhir pekan ini, mata uang Garuda diperkirakan akan tetap berada di atas Rp 15.000 per dollar AS.

Adapun sebagain pihak mulai khawatir rupiah terus terjerembab seperti yang terjadi pada krisis 1998 silam. Saat itu nilai tukar rupiah tembus ke posisi Rp 17.000 per dollar AS.

Namun dengan berbagai langkah tepat dan terukur, rupiah bisa merangkak naik hingga Rp 6.500 per dollar AS pada masa Presiden BJ Habibie.

Keberhasilan "pemerintahan transisi" BJ Habibie membuat rupiah perkasa pun diapresiasi banyak pihak, tak terkecuali para ekonom yang kerap mengkritiknya.

Pendekatan Aeronautical

Habibie bukanlah seorang ahli ekonomi. Ia seorang engineer pesawat terbang. Hal itulah yang membuat banyak ekonom tak yakin Habibie mampu mengangkat ekonomi Indonesia paska-krisis 1998.

Namun hasil berkata lain, pemerintahan Habibie justru mampu menjawab pesimisme itu. Pendekatan Habibie dalam melihat kondisi ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah menjadi pembeda.

Habibie memahami kondisi ekonomi menggunakan pendekatan aeronautical atau aeronautika. Ia melihat kejatuhan rupiah pada 1998 ibarat pesawat terbang dalam keadaan stall.

Stall merupakan posisi saat pesawat kehilangan daya angkat. Bagian depan pesawat mengarah ke atas dengan sudut lebih dari 15 derajat. Kondisi ini bisa menyebabkan pesawat jatuh.

"Bayangkan pesawat sudah stall, mau jatuh, sama dia bisa stabil lagi sehingga cruising (terbang datar), descending (pesawat terbang turun), dan bisa soft landing," kata ekonom Umar Juoro di Habibie Center, Jakarta, Senin (8/10/2018).

Baca juga: Rupiah Makin Loyo, Sri Mulyani Sebut karena Defisit Italia

Ilustrasi rupiahiStockphoto/danikancil Ilustrasi rupiah
Habibie tak melihat kondisi ekonomi dan rupiah dari sisi statik ekonomi. Namun melihat dari sisi yang dinamik aeronautika.

Pesawat terbang bisa stall dan jatuh bebas akibat kecepatannya berada di bawah kecepatan minimum. Terangkatnya moncong pesawat disebabkan gaya gravitasi bumi.

Hal yang paling penting dalam menerbangkan pesawat yakni gaya angkat atau lift dengan gravitasi harus seimbang. Oleh karena itu, agar pesawat tak jatuh maka kondisinya harus seimbang.

Inilah yang dilihat Habibie dari kondisi rupiah 1998. Ibarat pesawat terbang, rupiah saat itu sudah mengalami stall. Oleh karena itu perlu cara agar rupiah bisa stabil lebih dulu.

Keseimbangan menjadi basis. Dalam aeronautika, untuk meningkatkan kecepatan atau menurunkan kecepatan, maka dibutuhkan kesimbangan dengan gravitasi. Inilah yang disebut sebagai aerodinamika.

"Gerakan rupiah itu adalah gerakan seperti gerakan di udara, mengalami turbulensi. Sementara struktur ekonomi itu kan keseimbangan. Makanya Pak Habibie selalu sebut kata-kata kesimbangan itu banyak sekali," kata dia.

"Sebetulnya kalau mau di lihat ekonomi sekarang yang demikan besar triliunan dollar dan globalisasi itu, ekonomi itu pesawat udara, pesawat jet. Makanya Pak Habibie ingin jangan sampai dia crash. Karena kalau crash itu berarti konstruksinya hancur," sambung Umar.

Dengan pendekatan aeronautical itulah Habibie mengambil kebijakan-kebijakan saat menggantikan Soeharto sebagi Presiden RI ke-3 pada 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999.

Eksekusi dan hasilnya

Meski umur masa pemerintahnya tak panjang, BJ Habibie dikenal sebagai pionir reformasi di bidang ekonomi.

Umar mengatakan, Habibie memahami betul bahwa masalah ekonomi 1998 tak lagi sebatas ekonomi semata namun sudah menjalar ke krisis kepercayaan atau trust.

Misalnya dalam kasus IMF yang meminta pemerintah menutup 16 bank pada 1 November 1997, termasuk bank yang dimiliki keluarga Presiden Soeharto. Tujuannya, kepercayaan rakyat kepada pemerintah muncul.

Namun pasar menyambut negatif keputusan itu. Masyarakat malah panik dan berbondong-bondong menarik dananya dari bank.

Baca juga: Titip Asa Dirgantara pada Pesawat R80 Habibie (Bagian IV - Terakhir)

Untuk menghentikan rush, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) terpaksa mengambil dua langkah. Pertama, menjamin 100 persen semua simpanan di bank. Kedua, menaikkan suku bunga deposito hingga 60 persen.

"Makanya saat IMF mengatakan IMF yang mendikte, Pak Habibie bilang 'Jangan mendikte Anda, saya tahu bahwa kami butuh kredibilitas'. Jadi dia enggak hanya menerima gitu aja. Masalahnya bukan masalah ekonomi lagi, tapi juga emosional," ucap Umar.

Oleh karena itu kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintahan Habibie memiliki basis untuk mengembalikan kepercayaan kepada ekonomi nasional.

Ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono saat berbincang beberapa waktu lalu dengan Kompas.com, mengungkapan beberapa kebijakan massa pemerintahan BJ Habibie.

Pada 21 Agustus 1998, pemerintah mengeluarkan paket restrukturasi perbankan untuk membangun kembali perbankan yang sehat. Lewat kebijakan ini beberapa bank di-merger untuk menjadi bank baru yang kuat dari sisi pendanaan, salah satu hasilnya adalah Bank Mandiri.

Pemerintahan Habibie juga mengambil keputusan besar untuk memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintah. Dengan pemisahan itu, BI menjelma menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan.

Umar mengatakan, kebijakan Habibie memisahkan BI dari pemerintah sangat simple yakni agar BI tidak lagi diperintah atau ditekan oleh penguasa seperti massa Orde Baru.

Selain itu masuknya investor asing dan mulai pulihnya kepercayaan berimbas kepada penguatan nilai tukar rupiah.

Meski sempat ada di jurang Rp 16.800 per dollar AS, nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS di era Habibie.

Kondisi pertumbuhan ekonomi membaik menjadi 0,79 persen pada 1999, naik dari 1998 yang sempat -13,13 persen.

Begitupun dengan tingkat kemiskinan jadi 23,4 persen pada 1999, menurun dari 1998 yang mencapai 24,2 persen. Ketimpangan atau gini ratio pada 1998-1999 sebesar 0,3.



Close Ads X