Menyiasati Defisit Neraca Transaksi

Kompas.com - 10/10/2018, 12:54 WIB
. Getty Images/iStockphoto.
Editor Latief

Defisit neraca transaksi berjalan adalah ukuran perdagangan suatu negara di mana nilai barang dan jasa yang diimpor melebihi nilai barang dan jasa yang diekspor. Bersama dengan defisit anggaran negara, kedua komponen itu menjadi indikator utama investor perseorangan maupun perusahaan dari berbagai negara berinvestasi.

Pergerakan nilai tukar pun berkaitan erat kedua komponen itu. Ketika defisit melebar hingga melebihi konsensus internasional, maka nilai mata uang pun melemah.

Khusus untuk Indonesia, neraca transaksi berjalan mengalami defisit sejak kuartal IV 2011. Ketika itu, pemicu utama adalah penurunan kinerja ekspor akibat harga komoditas yang anjlok.

Di sisi lain, kinerja impor tak surut akibat impor minyak mentah dan hasil minyak yang meroket.

Pemerintahan Presiden SBY kemudian mengambil langkah yang tidak populis, yaitu menaikkan harga BBM bersubsidi pada akhir Juni 2013 atau untuk pertama kali sejak 2008. Premium naik dari Rp 4.500/liter menjadi Rp 6.500/liter, sedangkan solar naik dari Rp 4.500/liter menjadi Rp 5.500/liter.

Langkah itu bertujuan meredam dua defisit sekaligus, yaitu defisit neraca transaksi berjalan dan defisit anggaran negara alias APBN. Terbukti, ketika itu defisit neraca transaksi berjalan bergerak turun dari 10,12 miliar dolar AS (kuartal II 2013) menjadi 8,64 miliar dolar AS (kuartal III 2013) dan 4,34 miliar dolar AS (kuartal IV 2013).

Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah pun membaik. Pada awal tahun rupiah berada pada kisaran Rp 9.600 per dolar AS, sementara pada pengujung tahun nilainya Rp 12.128 per dolar AS. Padahal sejumlah kalangan memproyeksi rupiah di pengujung tahun itu bisa menembus Rp 13.000 per dolar AS.

Berkaca dari dinamika yang terjadi pada 2013, sejumlah kalangan pun mengusulkan agar harga BBM dinaikkan. Tidak hanya Chatib Basri, melainkan juga para ekonom lain lintas lembaga hingga pengusaha nasional dari sejumlah asosiasi.

Jika didetailkan, usulan itu memiliki dalih yang sahih. BI menilai defisit neraca perdagangan adalah penyebab pelebaran defisit neraca transaksi berjalan. Selama periode April-Juni 2018, defisit perdagangan mencapai 1,33 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, defisit itu dipicu impor minyak mentah dan hasil minyak sebesar 12,6 miliar dolar AS (data BPS). Nilai itu lebih tinggi dibandingkan defisit tahun lalu yang tercatat 10,3 miliar dolar AS. Kenaikan itu tak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X