Ketidakpastian Global, Pelemahan Rupiah, dan Bagaimana Menyikapinya - Kompas.com

Ketidakpastian Global, Pelemahan Rupiah, dan Bagaimana Menyikapinya

Kompas.com - 11/10/2018, 09:19 WIB
Kepala Departemen Manajemen Risiko Bank Indonesia (BI) Eni V. Panggabean (kiri), Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi (kedua kanan) dan Kepala Departemen Pengelolaan Sistem Informasi BI Diah Lubis (kanan) menjadi narasumber dalam Media Briefing Seminar IMS dan Cyber Security di ICom, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018). Sesi ini dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018.ICom/AM IMF-WBG/AFRIADI HIKMAL Kepala Departemen Manajemen Risiko Bank Indonesia (BI) Eni V. Panggabean (kiri), Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi (kedua kanan) dan Kepala Departemen Pengelolaan Sistem Informasi BI Diah Lubis (kanan) menjadi narasumber dalam Media Briefing Seminar IMS dan Cyber Security di ICom, Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018). Sesi ini dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018.

NUSA DUA, KOMPAS.com - Dunia saat ini tengah menghadapi kondisi ketidakpastian. Oleh karena itu, setiap negara di dunia termasuk Indonesia harus melakukan adaptasi.

"Kita sedang menghadapi begitu banyak ketidakpastian dan menuntut adaptasi," kata Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi dalam konferensi pers pertemuan gubernur bank sentral pada Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10/2018) malam.

Doddy menjelaskan, ketidakpastian tersebut di antaranya perubahan kebijakan di negara-negara maju, termasuk AS, yang berdampak kepada banyak negara di dunia termasuk negara- negara berkembang. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara-negara berkembang mengalami pelemahan.

Hal ini juga terjadi pada nilai tukar rupiah yang melemah beberapa waktu terakhir. Doddy mengungkapkan, untuk menyikapi pelemahan rupiah, maka yang dilakukan bukan menahannya pada level tertentu.

"Yang dilakukan bukan memaksakan diri menahan nilai tukar pada level berapapun, melainkan melakukan penyesuaian," ujarnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut dijelaskan, yang harus dilakukan adalah penyesuaian terhadap fundamental ekonomi. Indonesia merupakan negara dengan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Pelemahan rupiah akibat menguatnya dollar AS membuat aliran modal asing pastinya berkurang. Oleh karena itu, pola pikir yang harus tertanam adalah upaya menekan CAD.

Kedua, kata Doddy, semua pelaku ekonomi terutama sektor keuangan atau masyarakat umum yang memiliki kewajiban valas melakukan mitigasi terhadap risiko nilai tukar. Harus dilakukan beragam upaya agar sektor ekonomi memitigasi risiko nilai tukar.

"Salah satunya dengan kemampuan lindung nilai (hedging). Beberapa tahun terakhir kita terus mendorong hedging, membuat instrumen lebih banyak," jelas Doddy.

Oleh karena itu, inti dari permasalahan yang terjadi adalah melakukan adaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap pergerakan nilai tukar harus diperkuat.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di pasar spot Bloomberg hari ini, Kamis (11/10/2018) berada di level Rp 15.267 per dollar AS. Angka ini melemah dibandingkan pada posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya, yakni Rp 15.200 per dollar AS.

 



Close Ads X