Pemerintah akan Bangun Memorial Park di Daerah Rawan Likuifaksi Palu - Kompas.com

Pemerintah akan Bangun Memorial Park di Daerah Rawan Likuifaksi Palu

Kompas.com - 11/10/2018, 19:07 WIB
Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama/18BASRI MARZUKI Sejumlah personel Tim SAR menggali reruntuhan bangunan dan rumah untuk menemukan korban di lokasi likuifaksi Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10). Memasuki hari ke-14 pascagempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, pemerintah menghentikan proses evakuasi korban, sedangkan tanggap darurat diperpanjang hingga dua pekan kedepan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama/18

JAKARTA, KOMPAS.com - Jalur yang melewati Petobo dan Balaroa di Palu, Sulawesi tengah (Sulteng) dianggap sebagai wilayah dengan potensi likuifaksi yang paling tinggi.

Likuifaksi merupakan kondisi berubahnya sifat batuan akibat meningkatnya tekanan pori batuan sehingga kehilangan daya dukung sortasi, kemas, dan bentuk butiran. Hal ini membuat daratan tersebut rentan hancur jika terjadi gempa bumi.

“Berbagai survei telah kami lakukan, di daerah ini tebal lapisan alluvial hingga 14 meter, di beberapa tempat kumulatif lapisan pasirnya hingga 7,2 meter, itu kami temui di Petobo,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Sehendar dalam keterangan tertulis, Kamis (11/10/2018).

Rudy menyebut, dengan kondisi tersebut, diikuti pergerakan lumpur, terjadilah semacam turbulensi karena di atasnya ada material atau beban. Hal ini mengakibatkan likuifaksi yang massif.

Baca juga: Pencarian Korban Gempa Dilakukan di Perumahan yang Ambles karena Likuifaksi

Wilayah tersebut, kata Rudy, dulunya merupakan bekas sungai purba dan mengalami pengurukan untuk pemukiman warga.

"Petobo itu juga merupakan daerah lereng panjang, ketika terjadi likuifaksi, strength-nya hilang,” kata Rudy.

Dengan demikian, ke depannya, wilayah tersebut tak akan dibangun kembali sebagai permukiman warga. Di area itu akan dibangun suatu situs peringatan bencana.

”Area ini akan mulai ditimbun, untuk dijadikan memorial park dalam bentuk luar terbuka hijau. Saat ini kita sedang menunggu bondering area-nya,” kata Rudy.

Sementara itu, masyarakat yang sebelumnya menempati wilayah rawan likuifaksi sebagai tempat tinggal akan dipindahkan ke tempat lain.

"Kita pindahkan ke hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang akan kita koordinasikan lagi dengan pemerintah setempat,” kata dia.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X