Demonstran Anti-Bank Dunia Itu Kini justru Menjadi Pemimpinnya

Kompas.com - 12/10/2018, 18:36 WIB
Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim memberikan konferensi pers terkait Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). Dalam kesempatan itu Jim mengucapkan terima kasih karena Indonesia tetap berkomitmen menggelar acara pertemuan tahunan walaupun gempa dan tsunami baru saja melanda Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah.ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/WISNU WIDIANTORO Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim memberikan konferensi pers terkait Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali International Convention Center, Kawasan Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). Dalam kesempatan itu Jim mengucapkan terima kasih karena Indonesia tetap berkomitmen menggelar acara pertemuan tahunan walaupun gempa dan tsunami baru saja melanda Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah.

TEPAT pukul 09.30 Wita, Kamis (11/10/2018), saya dan kru Kompas TV sudah berada di dalam salah satu ruangan di kawasan Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali.

Ruangan yang masih tampak jelas bahwa awalnya adalah kamar tidur hotel itu telah disulap menjadi studio mini oleh tim broadcast International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia untuk mengakomodasi media televisi yang membutuhkan tempat untuk melakukan wawancara.

Lemari kamar sudah penuh dengan kotak-kotak peralatan kami, bahkan toilet pun sudah menjadi gudang untuk perabotan yang disingkirkan untuk memberi ruang bagi kamera-kamera kami.

Yang ditunggu pagi itu adalah Jim Yong Kim. Nama ini mungkin sedang sering-seringnya Anda dengar kalau Anda mengikuti perhelatan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang berlangsung di Bali 8 hingga 14 Oktober 2018. Dia adalah Presiden Grup Bank Dunia.

Jadwal wawancara ini bukan hal yang mudah didapatkan. Wajar saja, bersama Managing Director of IMF Christine Lagarde, Presiden Grup Bank Dunia adalah penyelenggara pertemuan akbar taraf internasional ini, dan Indonesia adalah tuan rumahnya.

Sedikit meleset dari jadwal, karena harus melayani wawancara lain, Jim dan rombongannya akhirnya tiba di mini studio kami pukul 10.00. Jim, yang hari itu mengenakan kemeja endek khas Bali, menyapa dengan senyum lebar.

"Tim, nice to meet you again!"  ujar Jim saat kami berjumpa. "Always a pleasure, Jim," jawab saya, cukup senang karena ia masih ingat perbincangan terakhir kami di sebuah acara yang berlangsung di aula kampus Universitas Indonesia di Salemba, 2 tahun silam.

Jim pun mengenakan mikrofon clip on, kamera dinyalakan, dan wawancara pun dimulai.

Antisipasi gempa

Salah satu pertanyaan awal saya adalah, "Apakah Anda merasakan gempa tadi pagi?" Ini mengacu pada gempa di Situbondo yang terjadi pada dini hari 11 Oktober itu.

"Ya, saya sangat merasakannya. Saya terkejut, kok ranjang saya terasa bergoyang?" jawab Jim. Ia menyambung, "Pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya adalah apakah ada bahaya tsunami? Apa kerusakan yang ditimbulkan? Tapi dalam waktu singkat, tim saya langsung mengabari saya kondisi terbaru, dan sigap mengantisipasinya."

Meski sempat khawatir, Jim mengaku justru pernah beberapa kali merasakan gempa dengan guncangan lebih hebat saat berada di Los Angeles, Amerika Serikat, tempat keluarganya tinggal.

"Gempa menjadi salah satu hal yang sempat membuat banyak kalangan ragu untuk meneruskan rencana ajang internasional di Indonesia. Menurut Anda, perlukah dikhawatirkan?" tanya saya.

Jim menjawab, "Kami (World Bank) sebenarnya telah merancang berbagai rencana untuk beragam skenario kejadian. Kami bahkan telah melakukan penilaian independen untuk mengetahui bagaimana ketahanan dan kekuatan gedung-gedung di sini untuk menghadapi bencana, dan ini memberi kami keyakinan bahwa kalaupun ada kejadian, maka kami siap dengan rencana tanggap darurat yang matang."

Halaman:



Close Ads X