Jiwasraya Tunda Bayar Polis Rp 802 Miliar, Manajemen Lama Dinilai Salah Urus Investasi

Kompas.com - 12/10/2018, 22:11 WIB
Ilustrasi asuransi. ThinkstockIlustrasi asuransi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri asuransi jiwa kembali tercoreng. Bahkan perusahaan sebesar PT Asuransi Jiwasraya saja tak bisa penuhi janji tepat waktu.

Direktur Utama Jiwasraya Asmawi Syam mengatakan, saving plan yang jatuh tempo dan tidak bisa dilunasi Jiwasraya saat ini berjumlah Rp 802 miliar.

"Produk ini dijual lewat sejumlah bank, yang bertindak sebagai mitra distributor," sebut Asmawi seperti dilansir Kontan.co.id, Kamis (11/10/2018).

Kondisi Jiwasraya yang mesti menunda pembayaran klaim mengingatkan pada beberapa pemain asuransi jiwa sebelumnya yang tak bisa memenuhi kewajiban kepada nasabah. Bahkan nasib perusahaan macam PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) dan PT Bumi Asih Jaya dan PT Asuransi Jiwa Nusantara berakhir dengan pencabutan izin oleh regulator.

Baca juga: Asuransi Jiwasraya Targetkan Pendapatan Premi Tahun Ini Rp 20 Triliun

Masalah permodalan dari perusahaan asuransi biasanya menjadi penyebab nasib nahas yang harus ditanggung oleh nasabah. Ditambah lagi dengan pengelolaan manajemen yang tidak sesuai dengan yang semestinya.

Pengamat asuransi sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Risiko & Asuransi (STIMRA) Jakarta Hotbonar Sinaga menilai, masalah yang menimpa Jiwasraya lebih kepada kesalahan manajemen periode sebelumnya. Khususnya pada pengelolaan investasi.

"Ada miss-investasi dari direksi terdahulu," kata Hotbonar, Jumat (12/10/2018).

Dia menduga manajemen lama tidak menempatkan alokasi dana investasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan likuiditas. Di saat kondisi ekonomi global bergerak tak menentu, perusahaan banyak bermain di instrumen ekuitas. Sehingga pada waktu pembayaran klaim, tak tersedia dana yang mencukupi.

Sementara itu, Ketua Komite Asuransi dan Dana Pensiun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Herris Simandjuntak juga punya pendapatan yang sama. Ia menyebut manajemen sebelumnya terlalu agresif dalam menempatkan dana kelolaan untuk mengincar imbal yang tinggi.

Manajemen lama, kata dia, terlalu optimis bisa mendapat return investasi yang tinggi. Makanya mereka berani menawarkan produk saving plan dengan janji return yang tinggi pula. "Padahal yang namanya pasar kan naik-turun, tapi mereka terlalu berani," ungkapnya.

Bila melihat laporan keuangan Jiwasraya tahun 2017, perusahaan menempatkan nyaris 61 persen aset investasinya di instrumen berbasis ekuitas yakni saham dan reksadana.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X