KILAS EKONOMI

Kemendag Dukung Proses Pendidikan dan Pengajaran di Pulau Terluar

Kompas.com - 15/10/2018, 07:15 WIB
Sekjen Kemendag Karyanto Supri menyerahkan bantuan berupa laptop dan proyektor kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Berau Sarwan MPd. Bantuan itu untuk mendukung proses mengajar para guru di SMA Negeri 9 Berau, Kalimantan Timur, Kamis (20/9/2018)KOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI Sekjen Kemendag Karyanto Supri menyerahkan bantuan berupa laptop dan proyektor kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Berau Sarwan MPd. Bantuan itu untuk mendukung proses mengajar para guru di SMA Negeri 9 Berau, Kalimantan Timur, Kamis (20/9/2018)

BERAU, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) secara konkret mendukung proses pengajaran di salah satu daerah terluar Indonesia.

Dukungan itu berupa pemberian bantuan berupa laptop dan proyektor untuk para guru di SMA Negeri 9 Berau, Kalimantan Timur.

Sekjen Kemendag Karyanto Supri yang mewakili Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyerahkan bantuan itu secara langsung kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Berau Sarwan MPd. pada Kamis (20/9/2018) lalu.

“Bantuan ini untuk mendukung proses pengajaran agar para guru bisa menyampaikan materi dengan baik pada siswa-siswi,” kata Sekjen Kemendag Karyanto Supri.

Baca juga: Tahun Ajaran Baru, Sekolah Wajib Terapkan Kurikulum 2013

Para guru yang diwakili Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Berau Sarwan MPd. mengapresiasi bantuan dari Kementerian Perdagangan tersebut. Menurut dia, penggunaan perangkat kerja tersebut membutuhkan aliran listrik yang konstan.

Ketersediaan listrik memang masih menjadi kendala untuk masyarakat Pulau Maratua di Kabupaten Berau.

Selama ini, listrik di lokasi sekolah itu berasal dari genset yang membutuhkan bahan bakar minyak. Bahkan, sejumlah rumah di sekitar sekolah menggunakan listrik tenaga surya.

“Saya dengar di sini listrik belum masuk. Saya akan coba komunikasi dengan pihak lain yang akan membantu mengupayakan listrik tenaga surya,” kata Karyanto.

Terapkan kurikulum 2013

Keinginan untuk maju dibuktikan para guru dengan menerapkan Kurikulum 2013 untuk siswa kelas X dan XI. Sementara, siswa kelas XII masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006.

Sarwan menjelaskan, seluruh guru telah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013. Namun, guru-guru tersebut belum lagi menerima panggilan untuk mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 yang direvisi.

“Untuk K-13 (Kurikulum 2013) revisi sampai sekarang belum ada panggilan untuk kami ikut pelatihan,” ujar Sarwan.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X