Sri Mulyani: Neraca Perdagangan Surplus, Ekspor Belum Sesuai Harapan

Kompas.com - 16/10/2018, 05:30 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) mendapat ucapan selamat dari Managing Director Majalah Global Markets Toby Fildes (kanan) pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapatkan penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific Awards dari majalah ekonomi Global Markets. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin/wsj/2018.


ANIS EFIZUDINMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) mendapat ucapan selamat dari Managing Director Majalah Global Markets Toby Fildes (kanan) pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapatkan penghargaan Finance Minister of the Year for East Asia Pacific Awards dari majalah ekonomi Global Markets. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin/wsj/2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan surplus sebesar 0,23 miliar dollar AS.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, meski sudah mengalami surplus, namun hal tersebut lebih disebabkan impor yang semakin menurun. Sedangan ekspor masih belum sesuai dengan harapan.

"Impornya mulai menurun dari ekspor, meskipun masih melemah. Belum meningkat setingkat yang kita harapkan. Kita harapkan akan terus meningkat," ujar Sri Mulyani ketika ditemui awak media di kawasan DPR RI, Senin (15/10/2018).

Menurutnya, surplusnya neraca perdagangan sudah menunjukkan tren yang positif dan diharapkan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dapat terjaga hingga akhir tahun.

Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, surplusnya neraca perdagangan merupakan tanda-tanda awal yang mengarah pada perkembangan membaik.

"Meskipun dalam jangka pendek di kuartal III CAD belum bisa menurun drastis mungkin ada kecenderungan lebih tinggi dari kuartal kedua. Tetapi di tahun 2019 mengonfirmasi perkiraan kami CAD di 2019 sekitar 2,5 persen. Kalau tahun ini kan tetap di bawah 3 persen, tetapi mengarah ke 3 persen," ujar dia.

Mengenai pertumbuhan ekspor yang cenderung melambat, Perry menjelaskan, permintaan batu bara dan komoditas lain selain crude palm oil (CPO) masih cenderung rendah. Ditambah lagi sebagain besar permintaan dari komoditas tersebut berasal dari China.

"Dengan pertumbuhan ekonomi Tiingkok melambat ya wajar permintaan ke komoditas agak melambat tapi kita juga sudah bersyukur bahwa ekspor kita naik cuma memang untuk menggenjot lebih tinggi lagi kalau hanya bertumpu pada komoditas agak susah," jelas Perry dalam kesempatan yang sama.

Sebagai informasi, BPS mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar 0,23 miliar dollar AS.

Surplus di sektor nonmigas disebabkan turunnya angka ekspor sebesar 6,58 persen dibandingkan Agustus 2018. Nilainya turun 13,62 miliar dollar AS.

Sementara angka impor nonmigas turun lebih besar, yakni 10,52 persen dibandingkan Agustus 2018. Nilainya turun 12,32 miliar dollar AS.

Sedangkan ekspor migas defisit 6,58 persen senilai 14,83 miliar dollar AS dibandingkan Agustus 2018. Sementara impor migas turun 13,18 persen dibanding bulan lalu.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X