Kepala Bappenas: Indonesia Harus Kerja Keras untuk Tingkatkan Daya Saing

Kompas.com - 17/10/2018, 18:39 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro

JAKARTA, KOMPAS.com -  Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengakui Indonesia masih harus bekerja keras untuk bisa meningkatkan lagi daya saing secara global.

Hal itu disampaikan Bambang menanggapi laporan Forum Ekonomi Dunia ( WEF) mengenai indeks daya saing global, yang mana  Indonesia yang berada di posisi 45 dari 140 negara. Posisi ini naik 2 peringkat dari sebelumnya, namun masih kalah dibandingkan negara jiran lainnya.

"Itu kan sudah dari sebelumnya seperti itu, ya kita harus bekerja lebih keras lagi," ujar Bambang selepas Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Rabu (17/10/2018).

Pasalnya, meski pemerintah di era Presiden Joko Widodo telah melakukan pembangunan infrastuktur berjalan secara masif, namun nyatanya belum mampu mengakomodasi kebutuhan negara secara keseluruhan serta membangun iklim investasi.

Baca juga: Daya Saing Indonesia Kalah Dibanding Negara-negara Tetangga

Di sisi lain, Bambang meyakini dengan meningkatnya peringkat Indonesia dalam indeks daya saing global ini dapat menarik investasi asing.

"Jadi kalau secara keseluruhan naik itu membantu kita kalau kita menarik investasi asing terutama," ujar Bambang.

Di dalam laporan bertajuk Global Competitiveness Report tersebut, Indonesia secara keseluruhan mencatatkan skor sebesar 64,9 meningkat 1,4 poin dari tahun sebelumnya.

Posisi Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Singapura yang menduduki posisi kedua dan Malaysia yang menduduki posisi ke 25.

Sejumlah komponen yang diteliti dalam indeks tersebut antara lain institusi, infrastruktur, kesiapan teknologi informasi dan komunikasi, stabilitas makroekonomi, kesehatan, keterampilan, pangsa pasar, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, dinamika bisnis, hingga kapasitas inovas

Singapura mencatat skor sangat baik untuk beberapa pilar, antara lain institusi (skor 80,7), infrastruktur (95,7), stabilitas makroekonomi (92,6), sistem keuangan (89,3), dan kesehatan (100).

Sementara Malaysia mencatat skor sangat baik dalam stabilitas makroekonomi (100) dan sistem keuangan (84,1). Selain itu, Negeri Jiran tersebut pun mencatat skor sangat baik dalam pilar kesehatan (82,6).

Adapun Thailand mencatat skor sangat baik dalam pilar stabilitas makroekonomi (89,9). Thailand juga unggul dalam pilar sistem keuangan (84,2) dan kesehatan (87,3).

Dibanding ketiga negara tersebut, Indonesia hanya unggul dalam satu pilar, yakni pangsa pasar dengan skor 81,6 atau peringkat 8 global. Indonesia juga mencatat skor yang cukup baik dalam pilar stabilitas makroekonomi, yakni 89,7. Dalam pilar ini, Indonesia berada pada peringkat 51 dunia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X