Stunting, PR Besar Indonesia untuk Tingkatkan Modal Manusia

Kompas.com - 21/10/2018, 09:37 WIB
Kegiatan Posyandu di wilayah Ogan Komering Ilir, salah satu langkah pencegahan stunting. Kegiatan Posyandu di wilayah Ogan Komering Ilir, salah satu langkah pencegahan stunting.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam Pertemuan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali, diluncurkan Indeks Modal Manusia/Human Capital Index oleh Bank Dunia sebagai indikator baru dalam mengukur aspek sumber daya manusia.

Indeks Modal Manusia memiliki rentang skor 0 sampai 1 yang memperlihatkan kaitan antara pendidikan dan kesehatan dengan tingkat produktivitas tenaga kerja generasi di masa mendatang.

Indonesia sebagai negara berkembang mendapat skor 0,53 dengan batas bawah 0,52 dan batas atas 0,55. Tercatat, Indonesia menempati peringkat ke-87 dari total 157 negara dalam Indeks Modal Manusia ini.

Indeks Modal Manusia untuk Indonesia masih jauh di bawah Singapura sebagai negara dengan Indeks Modal Manusia paling tinggi. Skor untuk Singapura 0,88 dan menempati peringkat pertama.

Posisi Indonesia juga belum bisa menyamai bila dibandingkan dengan negara lain di Asia Timur dan Pasifik yang skor rata-rata Indeks Modal Manusia sebesar 0,62. Meski begitu, Indonesia jauh lebih baik dari rata-rata Indeks Modal Manusia negara berpenghasilan menengah ke bawah yang skornya sekitar 0,48.

Merujuk dari dokumen APBN KiTa edisi Oktober yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan, disebut Indeks Modal Manusia Indonesia belum optimal karena faktor stunting atau kerdil.

Anak yang mengalami stunting atau kerdil salah satunya dikarenakan kekurangan gizi yang membuat tumbuh kembangnya kemungkinan besar tidak optimal sehingga produktivitas di masa mendatang tidak maksimal.

"Belum optimalnya HCI Indonesia utamanya dipengaruhi oleh indikator stunting yang masih berada di bawah rata-rata stunting rate negara lower middle income," sebut Kementerian Keuangan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah disebut sudah sama-sama berkomitmen menangani masalah stunting. Salah satunya dengan menjalankan Program for Results Penanganan Stunting yang melibatkan berbagai kementerian/lembaga, pemerintah daerah, sampai ke pemerintah desa dan melibatkan organisasi internasional.

Penanganan stunting menjadi kunci meningkatkan kapasitas modal manusia yang tercermin dalam Indeks Modal Manusia. Dalam survei untuk indeks tersebut, indikator yang digunakan untuk mengukur adalah survival, pendidikan, dan kesehatan.

Ukuran terhadap tiga indikator tersebut tidak hanya memuat informasi dari segi kuantitas, juga kualitas dengan memakai mekanisme harmonized test scores. Mekanisme tersebut mengkombinasikan berbagai program penilaian terhadap mutu pembelajaran yang ada di dunia saat ini.

Adapun selain menangani stunting, hal yang tidak kalah penting adalah pendidikan. Untuk tahun depan, pemerintah meneruskan alokasi anggaran pendidikan sebesar minimal 20 persen dari total APBN, di mana hitungan berdasarkan RAPBN 2019 alokasi untuk pendidikan sebesar Rp 487,9 triliun.

Dana tersebut akan dipakai untuk Program Indonesia Pintar (PIP) yang menyasar 20,1 juta siswa, Bidikmisi dengan sasaran 471.800 mahasiswa, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi 57 juta siswa, serta program beasiswa LPDP bagi 6 juta penerima.

Tidak lupa alokasi anggaran di bidang kesehatan sebesar minimal 5 persen dari total APBN. Untuk tahun depan, alokasi anggaran untuk kesehatan dalam RAPBN 2019 sebesar Rp 122 triliun yang salah satunya digunakan untuk mendukung keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
komentar di artikel lainnya
Close Ads X