Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS EKONOMI

Pemerintah Indonesia Waspadai Penyebaran Penyakit African Swine Fever

Kompas.com - 01/11/2018, 17:00 WIB
Haris Prahara,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia mewaspadai penyebaran wabah penyakit hewan African Swine Fever (ASF). Penyakit yang menyerang babi ini dikabarkan terjadi di beberapa negara, terutama yang memiliki banyak populasi babi.

China menjadi negara pertama di Asia yang terserang wabah penyakit tersebut. Asal tahu saja, populasi babi di sana mencapai sekitar 400 juta ekor, terbesar di dunia.

Sejak awal penyakit ini diumumkan pada awal Agustus 2018, sudah 13 provinsi di sana terdampak ASF, antara lain Kota Shenyang, Provinsi Liaoning.

Pemerintah setempat sampai memusnahkan puluhan ribu ekor babi untuk menghindari penyebaran penyakit.

Terkait potensi penyebaran ASF ke Indonesia, pemerintah telah mewaspadainya.

Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa menjelaskan, penyebaran ASF lazimnya mengikuti pola lalu lintas babi dan produknya.

“Asia Tenggara kami nilai rawan terserang ASF. Ini jelas akan membahayakan populasi babi di Indonesia. Semua pemangku kepentingan akan sangat dirugikan. Kita harus mencegah sedini mungkin,” ujarnya dalam pernyataan tertulis kepada Kompas.com, Kamis (1/11/2018).

Untuk meningkatkan kewaspadaan, Kementerian Pertanian mengumpulkan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan se-Indonesia.

Pertemuan itu juga melibatkan laboratorium kesehatan hewan (balai veteriner), institusi pendidikan dan akademisi, pelaku bisnis bidang peternakan dan kesehatan hewan, serta para peternak babi. Semuanya berkumpul di Solo pada 31 Oktober untuk konsolidasi pencegahan masuknya ASF ke Indonesia.

Fadjar melanjutkan, pemerintah telah menetapkan kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF. Hal ini sejalan dengan perundang-undangan yang berlaku.

Suasana Workshop Nasional Penyakit African Swine FeverDok. Kementerian Pertanian Suasana Workshop Nasional Penyakit African Swine Fever
Ia turut berpesan kepada pemangku kepentingan terkait untuk memastikan langkah pemusnahan sisa-sisa makanan dari pesawat udara, kapal laut, atau kendaraan yang datang dari negara-negara tertular ASF.

Sebabnya, virus ASF tahan hidup dalam daging babi yang telah diasap, diberi garam maupun makanan kurang matang. Karena itu, sisa daging babi dan bahan mengandung babi mudah menularkan penyakit ini.

“Apabila langkah-langkah tersebut kita bisa jalankan dengan benar, dan sistem surveilans terlaksana dengan tepat, maka saya optimistis populasi babi di Indonesia yang berjumlah 8 juta ekor lebih dapat kita lindungi dari ancaman ASF” pungkasnya.

Belum ada vaksin

National Technical Adviser dari FAO ECTAD Indonesia Andri Jatikusumah mengatakan, Indonesia perlu waspada ancaman penyakit ASF karena sampai saat ini belum ada vaksin dan pengobatannya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com