Buwas Curiga Pedagang Nakal Ubah Kualitas Beras Medium Jadi Premium

Kompas.com - 08/11/2018, 12:13 WIB
Ketua Kwartir Nasional Pramuka 2018-2023, Budi Waseso memberikan keterangan pers usai terpilih menjadi Ketua Kwarnas Pramuka, di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (28/9/2018). Budi Waseso (Buwas) terpilih menjadi Ketua Kwarnas Pramuka periode 2018-2023, pada Musyawarah Nasional (Munas) X Gerakan Pramuka, setelah memperoleh 19 suara, unggul dari calon incumbent Adhyaksa Dault yang memperoleh 14 suara dan calon lainnya Jana T. Anggadiredja 2 suara. ANTARA FOTO/JOJONKetua Kwartir Nasional Pramuka 2018-2023, Budi Waseso memberikan keterangan pers usai terpilih menjadi Ketua Kwarnas Pramuka, di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (28/9/2018). Budi Waseso (Buwas) terpilih menjadi Ketua Kwarnas Pramuka periode 2018-2023, pada Musyawarah Nasional (Munas) X Gerakan Pramuka, setelah memperoleh 19 suara, unggul dari calon incumbent Adhyaksa Dault yang memperoleh 14 suara dan calon lainnya Jana T. Anggadiredja 2 suara.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Perum Badan Usaha Logistik (Bulog) Budi Waseso menduga ada permainan dalam rantai distribusi beras ke pelanggan. Ia melihat ada indikasi pedagang nakal yang mengemas beras kualitas medium menjadi beras premium.

Harga setara beras premium, namun kualitas setara beras medium.

"Kalau saya, dari penyuplai mencurigai ada yang mengubah beras medium ke premium," kata pria yang akrab disapa Buwas itu di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Sebab, ada anomali yang terjadi di pasar terkait penjualan beras. Kementerian Pertanian, Bulog, maupun Food Station memastikan stok beras cukup, bahkan berlebih. Namun, harganya di sejumlah tempat malah naik.

Baca juga: Harga Naik Meski Stok Beras Melimpah, Mentan Sebut Ada Anomali

Selain itu, jumlah ketersediaan beras medium tak sesuai dengan apa yang telah disalurkan.

"Sekarang stok terbanyak premium ada 80 persen. Padahal kita tadinya menggelontorkan lebih dari 60 persen untuk beras medium. Tapi medium ini sudah kurang," kata Buwas.

Hal ini berdampak ke masyarakat yang jadi sulit mendapatkan beras medium. Tak hanya itu, konsumen yang membeli beras premium pun tertipu karena kualitasnya tak sesuai dengan standar.

Direktur Utama Food Station Arief Prasetyo Adi mengatakan, stok beras di food station sebesar 50.000 ton, dua kali stok yang dibutuhkan. Sehingga, dari sisi produksi bisa disebut cukup baik.

Sepakat dengan Buwas, Arief menduga ada keanehan pada stok beras medium di pasar. Beras jenis premium justru melampaui pasokan beras medium.

"Ini semacam fenomena baru. Medium sedikit, premiumnya 80 persen," kata Arief.

Perbedaan beras premium dan medium terletak pada kualitas pecah beras atau broken. Beras pecah pada premium ditetapkan 15 persen, sementara medium di atas 20 persen.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X