Kompas.com - 10/11/2018, 17:05 WIB
Chief Executive Officer (CEO) Aku Pintar, Lutvianto Febri Handoko di acara Vokasi dan Ironi Pendidikan di Era Milenial di Warung Daun, Jln. Cikini Raya, Nomor 26, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018). MURTI ALI LINGGA/KOMPAS.comChief Executive Officer (CEO) Aku Pintar, Lutvianto Febri Handoko di acara Vokasi dan Ironi Pendidikan di Era Milenial di Warung Daun, Jln. Cikini Raya, Nomor 26, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap zaman memiliki tantangan tersendiri untuk generasinya termasuk bidang pekerjaan. Kerenanya, anak milenial sudah waktunya merencanakan pekerjaan di masa mendatang.

Chief Executive Officer (CEO) Aku Pintar, Lutvianto Febri Handoko mengatakan, berdasarkan data Indonesia Career Center Network (ICCN) pada 2017 lalu, sebanyak 71,7 persen pekerja memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya. Hal ini terjadi karena minimnya perencanaan sejak awal.

"Jadi dari sini (persoalannya). Masalahnya tidak ada perencanaan," ungkap Lutvianto dalam acara Vokasi dan Ironi Pendidikan di Era Milenial di Warung Daun, Jln. Cikini Raya, Nomor 26, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018).

Menurut Lutvianto, tingginya angka mereka yang tidak bekerja sesuai latar belakang pendidikannya juga pengaruhi soal keputusan di bangku pendidikan. Mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga ke perguruan tinggi atau kuliah. Mereka memilih dan memutuskan sesuatu tidak sesuai dengan keingianan hati dan keperibadiannya.

Baca juga: Dari Kegagalan, Milenial Ciptakan "Startup" Jutaan Dollar AS

"Solusinya apa? Pelajar diri sendiri dengan melihat keperibadian. Sehingga permasalahan salah jurusan dan pengangguran yang cukup tinggi bisa dikurangi," katanya.

Dia menambahkan, ketidakcocokan latar belakang pendidikan sering kali membuat seseorang berpindah-pindah pekerjaan. Bahkan bisa menjadi salah satu penyebab tingginya angkatan kerja yang tidak bekerja alias menganggur. Jadi hal inilah yang harus dicermati anak generasi milenial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, faktor seseorang sering memilih jurusan yang salah karena dipengaruhi dan disebabkan sejumlah hal. Mulai dari saran orang tuan, saran teman, ikut-ikutan, dan bahkan karena gensi. Faktor dominan inilah yang sering melanda dan terjadi pada anak muda.

"Banyak yang merasa salah jurusan setelah masuk kuliah. Data ICCN pada 2017 membuktikan, bahwa 50,55 persen karena faktor eksternal dan 36, 26 persen faktor kesukaan mata pelajaran. Sehingga ada 87 persen (pelajar) di Indonesia merasa salah jurusan," papar dia.

Ia menilai generasi milenial saat ini memiliki potensi dan kemampuan yang besar. Sehingga akan mampu dan siap menjalani zaman dengan dinamika pekerjaan kedepannya. Bicara pendidikan bukan hanya soal prosesnya tapi juga tentang perencaan.

"Tinggal bagaimana kita mengarahkan mereka. Membaca potensi diri melalui vokasi," sebutnya.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.