Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020?

Kompas.com - 12/11/2018, 11:38 WIB
Ilustrasi.THINKSTOCK Ilustrasi.

KOMPAS.com - Pada November 2018 ini terdapat beberapa perkembangan indikator ekonomi yang cukup menggembirakan seperti kurs nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ke level 14.500an, harga minyak yang turun, dan kenaikan harga yang cukup signifikan terjadi pada harga saham, obligasi, dan reksa dana. Apa penyebabnya?

Ada analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen domestik seperti kebijakan yang dilakukan oleh BI dan pemerintah seperti penyediaan sarana hedging mata uang domestik (Non Delivery Forward Domestic/NDFD), kebijakan minyak sawit pada BBM yang dikenal B20, kenaikan suku bunga the Fed, pembatasan upaya spekulasi mata uang asing, data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang baik, hingga valuasi saham dan obligasi yang sudah sangat menarik sehingga asing kembali masuk ke Indonesia.

Ada juga analisis yang menyatakan bahwa ini hasil dari sentimen eksternal seperti harga minyak yang turun cukup drastis sehingga berpotensi mengurangi beban defisit transaksi berjalan (current account deficit), hasil dari pemilu sela di Amerika Serikat dimana partai Demokrat menguasai kursi DPR sehingga diperkirakan kebijakan Presiden Donald Trump akan lebih mendapatkan kontrol dan pengawasan, hingga prediksi yang menyatakan Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020.

Pada kenyataannya sangat sulit untuk menentukan 1 faktor yang tunggal dan dominan yang menjelaskan suatu kondisi perekonomian. Yang lebih sering adalah gabungan dari beberapa faktor tersebut.

Baca juga: JP Morgan Prediksi 60 Persen Kemungkinan AS Resesi di Tahun 2020

Ada satu hal yang terus terang menarik perhatian saya, yaitu perihal prediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi pada tahun 2020. Mengapa prediksi ini bisa muncul di tengah data-data perekonomian AS yang membaik seperti tingkat inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi bahkan di atas target?

Secara umum resesi didefinisikan sebagai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang negatif selama dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. Secara khusus National Bureau of Economic Research (NBER) suatu lembaga yang publikasinya dijadikan sebagai acuan pengambilan keputusan, definisi resesi adalah penurunan signifikan yang terjadi pada aktivitas ekonomi selama beberapa bulan, seperti pertumbuhan PDB, pendapatan, tingkat pengangguran, tingkat produksi, dan penjualan.

Berdasarkan definisi dan data NBER di atas, sejak 1980 sampai 2018, Amerika Serikat tercatat mengalami 5 kali resesi yaitu pada periode :

  • Januari 1980–Juli 1980
  • Juli 1981–November 1982
  • Juli 1990–Maret 1991
  • Maret 2001–November 2001
  • Desember 2007–Juni 2009

Periode resesi digambarkan dalam area warna abu-abu dalam grafik di bawah.

Grafik periode resesi ASfred.stlouisfed.org Grafik periode resesi AS
Yang menarik dari grafik di atas, adalah NBER juga mengembangkan indikator untuk memprediksi periode resesi berikutnya dengan cara menggunakan selisih antara yield obligasi 10 tahun dengan yield obligasi 2 tahun di Amerika Serikat dalam grafik warna biru di atas.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, yield juga bisa dinyatakan sebagai besaran bunga yang harus dibayarkan oleh pemerintah Amerika Serikat jika menerbitkan surat utang.

Dalam kondisi normal, yield 10 tahun lebih besar dari 2 tahun sehingga selisihnya positif. Ibaratnya kalau meminjam uang, bunga untuk pinjaman yang jatuh temponya 2 tahun seharusnya lebih murah dibandingkan yang bunganya 10 tahun. Misalkan bunga untuk 2 tahun 8 persen, maka 10 tahun adalah 10 persen sehingga selisihnya positif 2 persen.

Jika melihat pada grafik di atas, terdapat kondisi-kondisi yang tidak normal, yakni ketika selisihnya mendekati nol atau bahkan negatif. Secara nalar, tentu sulit diterima dengan akal sehat dimana bunga untuk pinjaman 2 tahun sama atau lebih tinggi daripada bunga 10 tahun.

Namun pada kenyataannya hal itu terjadi. Dan jika melihat pada grafik di atas, ketika angka tersebut negatif atau mendekati 0 persen, pada tahun berikutnya terjadi resesi ekonomi.

Hingga Oktober 2018, angka selisihnya mencapai 0,29 persen dan diperkirakan pada tahun 2019 angka tersebut akan mendekati 0 persen atau bahkan negatif.

Baca juga: Meski Dikritik Trump, The Fed Tetap Akan Menaikkan Suku Bunga

Dengan mengacu pada data historis, maka diprediksikan bahwa Amerika Serikat akan mengalami resesi di tahun 2020.

Penyebab utamanya adalah kebijakan pemotongan pajak bagi korporasi yang diambil oleh Presiden Donald Trump dan kenaikan suku bunga the fed.

Sumber pendapatan utama bagi pemerintah AS adalah berasal dari pajak. Dalam rangka memenuhi janji kampanyenya, Presiden Donald Trump membuat kebijakan pemotongan pajak bagi korporasi hingga 50 persen yang menyebabkan laba bersih perusahaan dan pertumbuhan ekonomi meningkat.

Namun sisi negatifnya adalah sumber penghasilan negara berkurang sehingga harus ditutup dengan menerbitkan obligasi (meminjam uang) dalam jumlah yang semakin besar. Kondisi ini terjadi pada saat yang bersamaan dengan suku kenaikan suku bunga the Fed dan perang dagang dengan China.

Akibatnya investor menjadi lebih berhati-hati. Pemberian pinjaman (pembelian obligasi AS), walaupun dilakukan, investor cenderung memilih yang jangka pendek dibandingkan yang jangka panjang serta meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

Hal inilah yang menyebabkan selisih yield 10 tahun dan 2 tahun mendekati nol atau bahkan berpotensi negatif.

Kondisi ini bisa saja membuat kebijakan bank sentral AS pada tahun 2019 berubah. Karena jika suku bunga tetap naik secara agresif, maka terjadinya resesi akan semakin cepat. Untuk itu, suku bunga AS pada tahun mendatang bisa jadi naik kurang dari 3 kali dan sangat mungkin akan turun pada akhir tahun.

Bagi Indonesia, hal ini menjadi berita positif karena tekanan bagi Bank Indonesia akan semakin berkurang untuk menaikkan BI Rate. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tahun 2018 ini.

Nilai tukar yang kuat atau paling tidak stabil di kisaran Rp 14.000 – 15.000 akan berdampak positif terhadap kinerja saham, obligasi dan reksa dana. Secara historis, pada tahun politis kinerja investasi juga cenderung baik.

Demikian, semoga artikel ini bermanfaat.

 



Close Ads X