Kompas.com - 12/11/2018, 14:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Belakangan, masyarakat mulai meninggalkan beras medium. Konsumsi masyarakat kemudian mulai beralih dari jenis beras medium ke beras jenis premium. Kinerja sejumlah produsen beras menunjukkan hal ini.

PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), salah satunya. Mengutip dari laporan keuangan emiten beras Buyung Poetra pada laman Bursa Efek Indonesia, pendapatan HOKI sampai kuartal III 2018 meningkat 17,78 persen menjadi Rp 1,06 triliun dari periode sama tahun lalu Rp 900,05 miliar.

Emiten ini berfokus pada penjualan beras premium, yang kinerjanya ditopang dengan penjualan beras mencapai Rp 1,088 triliun atau lebih besar 15,6 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 941,3 miliar. Dari laporan keuangan tersebut dapat digambarkan, saat ini beras jenis premium sudah banyak peminatnya.

Mengutip Kontan.coid, Senin (12/11/2018), pengamat Pertanian Khudori menjelaskan, bagi masyarakat beras bukan lagi komoditas tunggal dan bagi masyarakat menengah beras bukan lagi barang inferior. Preferensi masyarakat saat ini tidak lagi pada beras medium, tapi ke beras premium.

“Dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan harga beras lebih banyak ditentukan oleh beras premium, bukan medium. Namun saat harga beras naik, konsumen tidak langsung beralih ke beras yang lebih murah, tapi mengurangi volume pembelian,” ujarnya, Minggu (11/11/2018).

Berdasarkan kajian Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) April 2016 di 13 kota, yaitu Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, Bogor, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Malang, Jember, Denpasar, dan Makassar pada 1.977 orang responden tentang perilaku konsumen beras Indonesia.

Kajian tersebut memberikan hasil bahwa makan nasi setiap hari masih dianggap penting disamping banyaknya pilihan makanan lain, dari 98 persen responden pendapatan mengah, 93 persen responden pendapatan rendah, dan 83 persen responden pendapatan tinggi.

Hasil kajian tersebut juga menyebutkan frekuensi pembelian beras sebesar 2,7 kali per bulan dengan rata-rata konsumsi 70,4 kg per kapita per tahun. Kenaikan harga beras yang akan membuat responden mengubah konsumsi sebanyak 21,8 persen responden berpendapatan tinggi, 16,7 persen responden berpendapatan rendah, dan 15,2 persen responden berpendapatan menengah mengurangi beras yang dikonsumsi. Sedangkan 15,7 persen responden pendapatan tinggi akan mengganti dengan beras merek atau jenis lain.

“Preferensi masyarakat telah bergeser, kebijakan pemerintah perlu mengikuti agar efektif. Misalnya Operasi Pasar kurang efektif jika hanya menggunakan satu kualitas beras, akan lebih efektif jika juga menggunakan beras premium, tidak hanya beras medium saja,” ujar Khudori. (Lidya Yuniartha)

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Masyarakat mulai meninggalkan beras medium

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Melesat 13,6 Persen, Berapa Uang Beredar di Indonesia Saat Ini?

Melesat 13,6 Persen, Berapa Uang Beredar di Indonesia Saat Ini?

Whats New
Menko Airlangga di WEF 2022 Singgung Pentingnya Pembiayaan untuk Ketahanan Kesehatan Global

Menko Airlangga di WEF 2022 Singgung Pentingnya Pembiayaan untuk Ketahanan Kesehatan Global

Whats New
CPNS Mengundurkan Diri Bisa Kena Denda, dari Puluhan Juta Rupiah Sampai Rp 100 Juta

CPNS Mengundurkan Diri Bisa Kena Denda, dari Puluhan Juta Rupiah Sampai Rp 100 Juta

Whats New
Mencermati Lonjakan Utang Indonesia ke China dari Tahun ke Tahun

Mencermati Lonjakan Utang Indonesia ke China dari Tahun ke Tahun

Whats New
Jelang KTT G20, PUPR Kebut Pekerjaan Penataaan Infrastruktur di Bali

Jelang KTT G20, PUPR Kebut Pekerjaan Penataaan Infrastruktur di Bali

Whats New
IHSG Menguat pada Sesi I Perdagangan, Saham BBNI, BBCA, dan BBRI Laris Diborong Asiang

IHSG Menguat pada Sesi I Perdagangan, Saham BBNI, BBCA, dan BBRI Laris Diborong Asiang

Whats New
IKN Dibangun Tahun Ini, Tim Komunikasi: Insya Allah on Schedule

IKN Dibangun Tahun Ini, Tim Komunikasi: Insya Allah on Schedule

Whats New
Jokowi Tekankan Kerja Sama Global Buat Mitigasi Bencana di Masa Depan

Jokowi Tekankan Kerja Sama Global Buat Mitigasi Bencana di Masa Depan

Whats New
Gandeng Prima, Nasabah Bank DKI Bisa Bertransaksi di Luar Negeri

Gandeng Prima, Nasabah Bank DKI Bisa Bertransaksi di Luar Negeri

Whats New
Hutan Terus Dibabat Demi Sawit, Ironinya Minyak Goreng Justru Mahal

Hutan Terus Dibabat Demi Sawit, Ironinya Minyak Goreng Justru Mahal

Whats New
Dalam Sepekan, JD.ID, LinkAja, dan Zenius Mem-PHK Karyawannya

Dalam Sepekan, JD.ID, LinkAja, dan Zenius Mem-PHK Karyawannya

Whats New
Jadi Agenda Presidensi G20, Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia Diharapkan Sasar Kota Besar

Jadi Agenda Presidensi G20, Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia Diharapkan Sasar Kota Besar

Whats New
Ini 3 Konglomerat Sawit RI yang Pilih Berkantor Pusat di Singapura

Ini 3 Konglomerat Sawit RI yang Pilih Berkantor Pusat di Singapura

Whats New
Daftar Negara Pemberi Utang ke Indonesia, Singapura Juaranya

Daftar Negara Pemberi Utang ke Indonesia, Singapura Juaranya

Whats New
Hanwha Life Raih Indonesian K-Brand Award 2022

Hanwha Life Raih Indonesian K-Brand Award 2022

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.