Kompas.com - 13/11/2018, 18:12 WIB
Pekerja beraktivitas di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumayPekerja beraktivitas di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018.

PARIS, KOMPAS.com - Gas bumi diprediksi bakal menggantikan batu bara sebagai sumber energi terbesar kedua di dunia setelah minyak pada tahun 2030 mendatang. Ini sejalan dengan upaya menurunkan polusi udara dan peningkatan penggunaan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Hal tersebut diungkapkan oleh Badan Energi Internasional (IEA). Dalam laporannya yang bertajuk World Energy Outlook 2018, IEA menyatakan permintaan energi akan naik lebih dari seperempat antara tahun 2017 dan 2040, dengan asumsi penggunaan energi yang lebih efisien, namun akan naik lebih dari dua kali lipat bila tidak ada perbaikan semacam itu.

Permintaan gas bumi akan meningkat 1,6 persen per tahun hingga tahun 2040 dan akan naik 45 persen dibandingkan saat ini.

IEA mengestimasikan bahwa akan ada lebih banyak efisiensi energi dalam penggunaan di bahan bakar, bangunan, dan faktor-faktor lainya.

"Gas bumi adalah bahan bakar fosil yang pertumbuhannya paling pesat dalam New Policies Scenario (yang dirilis IEA), (akan) menggeser batu bara pada tahun 2030 sebagai sumber energi terbesar kedua setelah minyak," tulis IEA dalam laporannya seperti dikutip dari CNBC, Selasa (13/11/2018).

China pun diprediksi bakal menjadi importir gas bumi terbesar di dunia yang akan menyamai level impor Uni Eropa pada tahun 2040. Saat ini, China telah menjadi importir terbesar minyak dan batu bara.

Meskipun China adalah pengguna gas bumi terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Rusia, namun China harus mengimpor sebanyak 40 persen kebutuhannya, lantaran produksi dalam negeri tidak bisa melampaui permintaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Negara-negara berkembang di Asia pun akan menyumbang sekitar separuh dari pertumbuhan permintaan gas bumi global. IEA memproyeksikan, total porsi impor gas bumi negara-negara tersebut akan naik menjadi 60 persen pada tahun 2040.

"Meskipun pembicaraan mengenai pasar gas bumi global yang menyerupai (pasar) minyak masih prematur, namun volume perdagangan LNG telah meningkat secara substansial sejak tahun 2010," jelas IEA. 

Pada tahun 2025, AS akan menyumbang sekira 40 persen pertumbuhan total produksi gas bumi dunia. Sementara itu, permintaan kelistrikan global akan tumbuh 2,1 persen per tahun, menurut IEA, didorong peningkatan penggunaan listrik di negara-negara berkembang.

 



Sumber CNBC
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.