Stan Lee, Jagad Marvel, dan Kepahlawanan yang Didamba

Kompas.com - 14/11/2018, 08:56 WIB
Stan Lee Sang Legenda MarvelKOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Stan Lee Sang Legenda Marvel


STAN Lee is dead at 95! Saya mengetahuinya pertama kali dari berita CNN. Separuh dunia berduka. Mungkin kurang dari separuh. Mungkin hanya sedikit saja.
 
Tak banyak yang mengenal sosok Stan Lee. Ia adalah goresan pena di kepala sebelum wujud si Manusia Laba-Laba, Manusia Besi, Thor, Hulk dan manusia-manusia super lainnya tercetak di buku-buku komik puluhan tahun silam.

Stan Lee hanyalah sosok tak kasat mata yang peduli pada epik kepahlawanan, pada luka-luka yang tak kelihatan di balik kostum para pahlawan super yang diciptakannya.

Tak ada darah, hanya raut-raut muka letih dan lunglai para superheroes yang nyaris tumbang di tangan musuh-musuhnya.

Stan Lee tak berharap ia menjadi bagian di setiap kisah yang dia ciptakan itu. Menjadi bayangannya pun ia tak mau. Ia hanya ingin mengisahkan perlawanan tanpa henti. Saat komik bertransformasi di layar perak, Stan Lee tetaplah siluman yang duduk bersama para pemirsa.

Baca juga: Stan Lee Kerap Tampil Cameo, Ini 10 Video Penampilan Terbaiknya
 
Jelas sekali bagi saya, sosok Stan Lee ingin memberikan visualisasi kepada dunia, bahwa dunia – meski damai tanpa kejahatan – tetap memerlukan pahlawan-pahlawan yang memberi inspirasi bagaimana impian dan idealisme diperjuangkan.

Bukan soal perang atau perkelahian, tapi soal rasa kemanusiaan saat setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri-sendiri.
 
Bagaimana mungkin ia bisa menciptakan sosok Hulk yang liar di balik kulit lembut ilmuwan cerdas Bruce Banner, atau sosok pemuda lugu yang di saat lain kekar bergelantungan dengan jaring laba-labanya?

Tidakkah aneh Stan Lee selalu menyembunyikan sosok wajah di balik setiap topeng dan kostum para superhero-nya seolah pahlawan tak boleh dikenali jati diri mereka sebenarnya?

Hulk, Spiderman, Batman, Iron Man.... mengapa alter-ego mereka harus anonim?

Idealisme yang mulai luntur

Kematian Stan Lee seakan ingin menutup satu bab naskah selama lima dasa warsa yang belum selesai. Bab yang menumpahkan segala ketidak-solideran orang-orang terhadap sekitarnya, tak hanya kepada orang-orang lain, tapi juga kepada keadaan lingkungan serta dinamika kehidupan itu sendiri.

Bila bukan penutup bab, kematiannya seperti menjadi pause – jeda - perjuangan para superhero ciptaannya yang masih bergumul mengejar idealisme yang mulai luntur hari ini: kesetiakawanan, hasrat akan interaksi yang indah antar individu dan komunitas, suatu keadaan di mana setiap orang membutuhkan orang-orang lain sebagai pahlawan kehidupan mereka.
 
Kisah superhero versi Stan Lee memang selalu seperti itu: dihadapkan pada klimaks perlawanan antihero di tengah perseteruan internal di antara kelompok mereka sendiri.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X