"Wind Talkers" dan Integritas yang Dipertanyakan Kembali - Kompas.com

"Wind Talkers" dan Integritas yang Dipertanyakan Kembali

Kompas.com - 20/11/2018, 15:41 WIB
Ilustrasi.SHUTERSTOCK Ilustrasi.

DI tengah pertempuran melawan pasukan Jepang di pulau Saipan, Prajurit Ben Yahzee, seorang radio-man keturunan Indian Navajo mengingatkan kembali argumentasi di antara para pasukan Amerika yang terjebak di pertempuran itu. Mereka kalah jumlah, kalah pemahaman medan, dan secara moral sudah nyaris tumbang.

“Remember Marine, ours is not to question why, ours is but to do or die. Semper Fi. Over!” (Ingat-ingatlah marinir, bukan tugas kita mempertanyakan mengapa, tugas kita hanya melakukannya atau kita mati. Tetaplah setia. Ganti!)

Dalam penyerbuan pasukan Amerika ke pulau Saipan, Jepang, pada Perang Dunia II, pasukan marinir Amerika merekrut beberapa suku Indian Navajo sebagai penyampai pesan sandi (encoder) antar pasukan Amerika dalam bahasa Navajo.

Jepang sangat lihat mengintersepsi setiap pesan radio melalui teknologi komunikasi mereka saat itu. Satu-satunya cara adalah berkirim pesan sandi dalam bahasa yang tak pernah dipahami pasukan Jepang: bahasa Navajo.

Seorang marinir yang cakap, Joe Enders, ditugaskan memimpin pasukan kecil untuk melindungi para Navajo tersebut bahkan dengan nyawanya sendiri.

Para Navajo harus tetap hidup, karena melalui merekalah koordinasi antar pasukan Amerika tetap dijaga rapi, akurat dan tak dapat diendus musuh.

Joe Enders pun harus memastikan, tak ada peluru satupun yang boleh menembus tubuh Ben Yahzee. Ia bahkan siap mati untuk itu.

Gambaran penyerbuan di pulau Saipan dipresentasikan dengan sempurna oleh John Woo, sutradara film epic “Wind Talkers” (2002).

Ini bukan film epic kepahlawanan biasa, bukan soal rela mati membela tanah air, bukan soal penaklukan satu bangsa atas bangsa lain. Ini adalah soal moral, menjaga kode, menjaga orang-orang yang melindungi kode, agar tatanan yang baik tetap terjaga.

Penjaga kode

Siapa yang akan menjaga kode?

Mari kita lihat alegori-nya.

Beberapa waktu lalu Senator Richard J. Durbin dari Partai Demokrat Illinois bertanya kepada Mark Zuckerberg, apakah ia nyaman untuk memberitahu publik dan para senator di Capitol di hotel mana tepatnya ia menginap tadi malam di DC.

Lalu, apakah ia juga cukup nyaman memberitahukan kepada siapa saja ia mengirimkan teks pesan selama seminggu terakhir ini. Zuckerberg dengan suara lirih menjawab, “Tidak. Saya mungkin tidak akan memilih untuk mengatakannya di depan publik.”

Dan Senator Durbin menjawab, “Saya pikir inilah intisari pembicaraan ini, yakni mengenai hak privasimu. Batas-batas hakmu atas privasi, dan seberapa besar kamu ikhlaskan privasimu atas nama connecting people around the world di negara Amerika yang modern ini.”

Zuckerberg hanya bisa tertunduk. Saya kira kita pun harus tertunduk. Kita semua, … bukankah kita ini para Navajo yang dengan bahasa khas bertutur melalui semesta maya dengan Navajo-Navajo lainnya?

CEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.Brendan Smialowski / AFP CEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

Siapa yang akan melindungi kita, para ‘Navajo’ selain para  ‘Joe Enders’ di Silicon Valley dan lembah-lembah teknologi yang tersebar di seluruh dunia?

Ada perdebatan soal moral atas nama kemajuan zaman dan soal keterbukaan sukarela atas nama media sosial dan internet. Apakah seseorang yang secara sukarela memberikan data-data pribadinya sebelum ia memutuskan setuju menginstal aplikasi di gawai cerdas harus dipertanyakan kembali kesukarelaannya tersebut hanya karena satu insiden yang mungkin “tidak disengaja” atau “tidak bisa dikendalikan” oleh pengelola platform?

Mark Zuckerberg tidak bisa dipersalahkan sendirian. Di satu waktu, dia sendiri adalah seorang “Navajo”, dan dia juga perlu dilindungi oleh “Joe Enders” yang lain.

Di semesta maya yang nyaris semua orang bisa berpeluang jadi anonim, siapa yang bisa menjamin integritas jaringan dan konten?

Bahwa ada kebocoran, ada kesalahan teknis yang menyebabkan privasi menjadi terpapar ke publik, tentu itu perlu dikoreksi, diperbaiki, tapi setiap “Navajo” harus memastikan bahwa integritas di atas segalanya.

Saat integritas diuji

Saya mencoba membayangkan sebuah skenario lain bila dalam kisah penyerbuan di pulau Saipan tersebut Ben Yahzee, si Navajo, sengaja mengarang sebuah informasi palsu – atau hoax – untuk pasukan Amerika di titik tempur yang lain, bayangkan saja seberapa besar bencana yang akan dialami oleh para pasukan Amerika di tanah asing tersebut?

Masih dalam skenario saya, akhirnya Joe Enders tertangkap dan ditawan bersama Ben Yahzee dalam kurungan yang sama di barak pasukan Jepang. Lalu dengan kemurkaan yang amat sangat Joe Enders bertanya kepada Ben Yahzee...”Why?”

“Why?” jawab Ben Yahzee. “Why should I protect the country that protects only the Whites. I am just your slaves. You ask me why? Why not!”

Sebuah respon yang tak bertanggungjawab! Untunglah itu hanya skenario imajiner saya saja. Tapi, bukankah hal seperti itu bisa saja terjadi?

Di dunia yang serba terkoneksi ini, tak ada ruang untuk kebohongan, tak ada ruang untuk perusak integritas sosial dan moral. Semua orang adalah Joe Enders, dan di saat yang sama adalah para Navajo.

Tugas kita sederhana, menjaga kode, menjaga moral, menjaga integritas, agar rumah bersama yang sehari-hari kita sebut negeri ini tetap bisa berdiri dengan kokoh, dalam harmoni dan kebersamaan, di mana orang-orang saling melindungi seolah tak ada yang lebih berharga daripada keluarga besar negeri ini sendiri.

Akhirnya, kisah Senator Durbin dalam konteks ini tak bicara soal privasi semata, namun lebih besar daripada itu, kode. Kode moral, kode integritas, kepercayaan yang dijunjung tinggi, saling keterhubungan,dan saling ketergantungan. Di era sharing-economy saat ini, apalagi kalau bukan kepercayaan dan integritas yang jadi pegangan para “Navajo”?

Dalam kisah di Pulau Saipan itu, Joe Enders akhirnya mati, Ben Yahzee – si Navajo berkulit merah - selamat, dan pasukan Amerika, meski berdarah-darah, menang.

Sekembalinya ke Amerika, Ben Yahzee duduk di atas Point Mesa, Monument Valley di Arizona bersama istri dan anaknya, George Washington Yahzee. Sambil memandang anaknya, Ben Yahzee berkata,

“Namanya Joe Enders, dari Philadelphia Selatan. Ia pejuang yang tangguh, marinir yang baik. Jika kamu akan menceritakan tentang dirinya George, katakan dia adalah sahabatku...”

Sekali lagi, Ben Yahzee mengajarkan arti sebuah kode: bukan untuk mempertanyakannya, tapi untuk menjalankannya atau kita akan mati.

Semper Fi!



Close Ads X