Masyarakat Galang Dana, Sejumlah Korban Travel Nakal Akhirnya Bisa Pergi Umrah

Kompas.com - 23/11/2018, 13:02 WIB
Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/11/2018).-KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia bersama Rumah Zakat dan lembaga pengimpun donasi sharinghappiness.org menggalang dana unuk membantu calon jemaah umrah yang menjadi korban agen perjalanan umrah nakal.

Diketahui beberapa waktu lalu mencuat kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan beberapa agen perjalanan umrah seperti First Travel, Hanin Tour, dan Abu Tour.

Divisi Manajemen Sharinghappiness.org, Dang Heppy mengatakan, donasi yang berhasil mereka himpun sebesar Rp 153.599.529.

"Ada lima jemaah yang siap diberangkatkan dari hasil galang donasi," ujar Heppy di Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Baca juga: Lion Air Akan Layani Penerbangan Umrah dari Bandara Kertajati

Heppy mengatakan, hingga saat ini, donasi masih terus terbuka. YLKI bersama lembaga terkait menargetkan 99 jemaah haji bisa diberangkatkan umrah dari penggalangan dana tersebut.

Selain lima orang dari Sharinghappiness, ada juga satu orang yang sudah diberangkatkan Dompet Dhuafa dan satu orang lagi diberangkatkan YLKI. Total ada tujun jemaah umrah yang terbantu dengan kerja sama beberapa lembaga tersebut.


Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, penggalangan dana tersebut dilakukan karena rasa simpati kepada calon jemaah yang jadi korban. Sebab, banyak dari mereka termasuk kalangan kurang mampu dan sudah berusia lanjut. Sementara mimpi mereka untuk beribadah di tanah suci harus terkubur akibat ulang agen perjalanan umrah nakal.

Tulus mengatakan, mungkin penggalangan dana tersebut tak bisa membernagkatkan seluruh korban yang jumlahnya ratusan ribu, namun sedikit membantu menghapus kekecewaan mereka yang sangat ingin berangkat umrah.

"Puluhan tahun mereka mengumpulkan biaya umrah, ada yang berjualan nasi, pedagang keliling, tukang becak, banting tulang untuk bisa berangkat," kata Tulus.

Tulus juga mengkritisi pemerintah,d alam hal ini Kementerian Agama yang dianggap kurang maksimal mengawasi agen perjalanan umrah. Saat ini, ada 978 agen perjalanan umrah yang terdaftar. Masih banyak lagi agen yang tak terdaftar di luar sana yang tetap memberangkatkan umrah.

"Harapannya dengan kasus macam ini pemerintah perbaiki manajemen umrahnya sehingga meminimalisir risiko penipuan agen travel. Sekarang masih dideteksi adanya pengaduan dan potensi pelanggaran yang makin memakan banyak korban," kata Tulus.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X