Trump Bikin Harga Minyak Tertekan ke Level Terendah

Kompas.com - 26/11/2018, 05:38 WIB
Ilustrasi minyak SHUTTERSTOCKIlustrasi minyak

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak dunia turun hingga sentuh rekor harga terendah, seiring dengan dukungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menginginan harga emas hitam itu di level rendah.

Mengutip Bloomberg, Jumat (23/11/2018) waktu setempat, harga minyak WTI kontrak pengiriman Januari 2019 anjlok 7,7 persen ke posisi 50,42 dollar AS per barrel. Posisi ini merupakan yang terendah sejak Oktober 2017. 

Analis Asia Trade Trade Points Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, harga minyak semakin menurun karena Trump mendukung tindakan Arab Saudi yang belum memangkas produksi minyak.

Trump yang berharap harga minyak tetap rendah akan terus menggejot produksi dan cadangan minyak di AS sehingga oversupply minyak terjadi. Deddy mengatakan dengan harga minyak yang rendah maka Trump merasa kebijakan normalisasi suku bunga The Fed akan lebih lancar dan dapat mendukung perbaikan ekonomi di AS.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Capai Titik Terendah sejak Oktober 2017

Senada, Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra mengatakan Trump yang senang bila harga minyak terus turun menyebabkan harga minyak masih tertekan.

"Kalau Trump menyatakan harga minyak lebih baik turun maka ia akan berusaha mempengaruhi OPEC untuk tidak memangkas produksi lagi, hal ini jadi sentimen negatif bagi harga minyak," kata Putu.

Oleh karena itu cadangan minyak dan produksi minyak di AS naik. Data dari Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan cadangan minyak komersiil AS naik hingga 4,9 juta barrel menjadi 446,91 juta barel di pekan lalu. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak Desember tahun lalu.

Sedangkan, produksi minyak mentah AS juga masih berada di level rekor mencapai 11,7 juta barrel per hari. Deddy menambah lemahnya harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan pengeboran minyak di AS yang jumlahnya mencapai 888 sumur aktif.

Harga minyak Deddy proyeksikan makin menurun karena EIA memperkirakan jumlah produksi minyak di AS bisa meningkat jadi 12 juta barrel hingga 13 juta barel setiap harinya di tahun depan.

Sementara, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan permintaan minyak akan surut karena belum selesainya ketegangan perang dagang AS dan China yang menjadi sentimen negatif bagi pertumbuhan ekonomi global hingga tahun depan.

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

AP I Catat Jumlah Penumpang Pesawat Capai 6,12 Juta di Kuartal I-2021

AP I Catat Jumlah Penumpang Pesawat Capai 6,12 Juta di Kuartal I-2021

Whats New
Adaro Energy Jajaki Lini Bisnis ke Sektor Energi Hijau

Adaro Energy Jajaki Lini Bisnis ke Sektor Energi Hijau

Whats New
Ingin Jadi Agen Frozen Food Fiesta? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya

Ingin Jadi Agen Frozen Food Fiesta? Simak Cara Daftar dan Persyaratannya

Smartpreneur
Siap-siap, Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak

Siap-siap, Transaksi Mata Uang Kripto Bakal Kena Pajak

Whats New
Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Cerita Boy Thohir, Bos Adaro yang Pernah Masuk ICU 11 Hari karena Covid-19

Whats New
Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Mengenal Zakat Mal: Pengertian, Hukum, dan Cara Menghitungnya

Whats New
Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Neraca Perdagangan Surplus Karena UMKM Ekspor Terus Tumbuh

Whats New
OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

OJK Minta Perusahaan Asuransi Selesaikan Aduan Nasabah terkait Unitlink

Whats New
Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Dari 64,2 Juta UMKM di Indonesia, Baru 13 Persen yang Telah Lakukan Digitalisasi

Whats New
Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Menaker: Belum Ada Perusahaan yang Menyatakan Tidak Mampu Bayar THR

Whats New
Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Gojek-Tokopedia Merger, Bos Gojek Andre Soelistyo Disebut Jadi Pemimpinnya

Whats New
[TREN EDUKASI KOMPASIANA] 'Reading Habit' pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

[TREN EDUKASI KOMPASIANA] "Reading Habit" pada Siswa | Pendidikan Perempuan dan Kesuksesannya | Mengatasi Ujian Bahasa Indonesia yang Sulit

Rilis
Soal Deposito Raib, Bank Mega Syariah: Dana Telah Masuk ke Rekening Perusahaan

Soal Deposito Raib, Bank Mega Syariah: Dana Telah Masuk ke Rekening Perusahaan

Whats New
YDBA Beri Pembinaan untuk Para Perajin Cangkul di Klaten

YDBA Beri Pembinaan untuk Para Perajin Cangkul di Klaten

Whats New
Perusahaan Tidak Bayar THR Lebaran 2021, Begini Cara Melaporkannya

Perusahaan Tidak Bayar THR Lebaran 2021, Begini Cara Melaporkannya

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X