BPS: Revolusi Industri 4.0, Indonesia Butuh Sistem Satu Data

Kompas.com - 26/11/2018, 11:11 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto bersama Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika usai menghadiri Seminar Nasional Official Statistics 2018 di Politeknik Statistika STIS, Kamis (25/10/2018).KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto bersama Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika usai menghadiri Seminar Nasional Official Statistics 2018 di Politeknik Statistika STIS, Kamis (25/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS) Suhariyanto mengatakan, kesatuan sistem data sangat dibutuhkan Indonesia untuk menyambut era revolusi industri 4.0.

Di era tersebut, pemanfaatan tekonologi sangat diandalkan untuk kepentingan industri. Termasuk untuk menentukan suatu kebijakan. Jika data statistik yang dihasilkan tidak sesuai, maka akan berpengaruh pada langkah yang diambil untuk merumuskan kebijakan.

"Tujuannya bagaimanan meningkatkan integritas data yang dicapai dengan prinsip satudata dan metadata baku," ujar Suhariyanto dalam sambutannya di Rapat Koordinasi sekaligus sosialisasi "Satu Data Indonesia menuju Revolusi Industri 4.0" di Jakarta, Senin (26/11/2018).

Kementerian Perindustrian memfokuskan lima subsektor yang punya posisi penting dan menjanjikan untuk dipersiapkan masuk revolusi industri 4.0. Salah satunya industri makanan dan minuman.

Baca juga: DPR Tegaskan Tugas BPS Kumpulkan Data, Bukan Putuskan Impor

Berdasarkan data BPS, industri makanan dan minuman meningkat signifikan dan menjadi salah satu kontribusi terbesar untuk domestik. Dilanjutkan dengan tekstil, otomotif, bahan kimia, dan elektronik.

Suhariyanto mengatakan, temuan tersebut membawa dampak ke ranah statistik. Perlu ada data yang tepat untuk menakar berapa besar porsi industri etrsebut dan pengaruhnya ke keseluruhan dunia industri. Oleh karena itu, perlu dibuat satu data besar untuk membuat sejumlah kajian mengenai apa yang bisa dikembangkan industri Indonesia agar berdaya saing di era revolusi 4.0.

"Kita perlu adopsi ketersediaan big data dan memperkuat data statistik," kata Suhariyanto.

Dengan adanya sistem tersebut diharapkan hasik data lebih berkualitas dan akurat. Sistem bernama Sistem Data Statistik Terintegrasi (Simdasi) itu dikembangkan menyesuaikan kesiapan kementerian, lembaga, dan instansi dalam mendukung data. Suhariyanto berharap Simdasi daat menjadi solusi mengatasi inkonsistensi data sektoral.

"Kuncinya bagaimana menggabungkan tiga statistik, yaitu statistik dasar, sektoral, dan khusus, menjadi satu kesatuan dalam bentuk sistem statistik nasional," kata Suhariyanto.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X