Apocalypto: Peyakit Menular Itu Bernama Ketakutan

Kompas.com - 03/12/2018, 12:49 WIB
Ilustrasi.SHUTERSTOCK Ilustrasi.


SISA tahun 2018 tinggal menghitung minggu, bahkan mungkin hari. Sebuah tahun yang penuh drama dan kisah untuk diceritakan, atau direfleksikan.

Sebagian melihat tahun ini dalam bingkai dinamika politik, sebagian lainnya lebih suka merasakan nadi perekonomian yang mulai menggeliat, sebagian lain lagi menikmati gosip-gosip inovasi di luar sana yang mungkin berdampak pada hayat hidup orang banyak di negeri ini. Lalu ada pula yang hanyut dalam keluhan-keluhan ini-itu.

Seorang sahabat menanyakan kepada saya, “kamu menjadi bagian yang mana?”

Saya tertunduk, malu. Saya bahkan tidak tahu di mana saya berdiri. Tapi dalam hati kecil saya, saya sungguh ingin memberitahunya apa sebenarnya yang menjadi keresahan saya: pesimisme.

Jangankan menatap masa depan, jujur saja banyak dari kita yang sulit rasanya menatap besok pagi dengan visi positif. Pesimisme mengeringkan tulang, membunuh antusiasme, sekaligus memperpanjang malam sebelum kita melihat matahari baru esok pagi.

Dan ini sama persis dengan apa yang dikatakan Flint Sky pada anak laki-lakinya yang beranjak dewasa, Jaguar Paw.

“Orang-orang di hutan itu…” kata Flint Sky, “apa yang kau lihat pada diri mereka, Jaguar Paw?”

Jaguar Paw menatap balik wajah ayahnya. “Aku tidak mengerti ayah.”

Flint Sky menatap jauh ke arah lebatnya hutan di semenanjung Yucatan. Ia harus bicara dengan hati-hati. Bagaimanapun ia adalah orang penting suku Maya sebelum sejarah melupakan peradaban mereka.

Dengan suara berat, Flynt Sky memberikan jawaban atas ketidak-mengertian Jaguar Paw.

“Ketakutan. Aku melihat ketakutan hingga ke akar-akarnya dalam diri mereka. Mereka terinfeksi oleh rasa takut. Tidakkah kau lihat itu Jaguar Paw? Rasa takut adalah penyakit! Ia akan merayap ke dalam jiwa-jiwa yang ia tulari, dan itu telah menodai kedamaianmu.”

Percakapan Flint Sky dan Jaguar Paw dalam film Apocalypto (2006) arahan sutradara Mel Gibson tentu bukanlah kisah murni sejarah. Selalu ada bumbu sana-sini, sentuhan sinematografi yang wah, serta alur cerita yang lebih banyak visual ketimbang verbalnya.

Halaman:



Close Ads X