Cari Pendanaan, Startup Pilih Fundraising Konvensional atau IPO?

Kompas.com - 04/12/2018, 11:12 WIB
ilustrasi rupiah thikstockphotosilustrasi rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Fundraising konvesional menjadi cara yang paling umum dilakukan perusahaan rintisan ( startup) untuk mendapat pendanaan. Dengan cara tersebut, startup berhubungan dengan beberapa investor tertentu dalam suatu kontrak kerja sama resmi. Networking menjadi tantangan startup untuk mendapat pendanaan secara konvesional.

Namun, di sisi lain, pemerintah mendorong agar para startup tersebut mau melakukan penawaran perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa saham untuk menghimpun dana. Cara tersebut dianggap lebih mudah bagi startup untuk mendapat pendanaan.

Sejumlah startup nampaknya masih ragu untuk melantai di bursa saham. Mereka beralasan IPO memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sehingga tidak bisa serta merta menghimpun dana dari investor.

Adapun aturan yang berlaku saat ini, startup yang ingin go public harus bisa membukukan keuntungan dua tahun setelah IPO, memiliki Aktiva Berwujud Bersih atau Net Tangible Asset (NTA), dan kapitalisasi pasar. Khusus untuk NTA, perusahaan dengan NTA minimal Rp 5 miliar sudah bisa listing di papan pengembangan. Sedangkan untuk papan utama disyaratkan memiliki NTA minimal Rp 100 miliar.

Baca juga: Kenapa Unicorn Muncul di Indonesia?

Saat ini, ada tiga startup yang sudah melantai di bursa yaitu PT Kioson Komersial indonesia, PT Mcash Integrasi Tbk, dan PT Yelooo Integra Datanet.

Managing Director Go-Pay Budi Gandasoebrata mengatakan, fundraising konvensional maupun IPO merupakan suatu pilihan yang tergantung kebutuhan perusahaan. Go-Jek berdiri karena mencoba menyelesaikan masalah lalu lintas. Seiring penambahan layanan, mulai dari Go-Ride, Go-Car, Go-Life, dan sebagainya, maka butuh dana segar yang masuk akal.

Kemudian, setelah dilakukan diskusi internal, salah satu unicorn tersebut memutuskan untuk melakukan fundraising secara konvesional.

"Problem apa yang mau kita solve, kita tawarkan services ke customer, lalu kita fundraise," kata Budi.

Setali tiga uang dengan Go-Jek, sementara ini Grab juga memilih cara konvesional untuk pendanaan ketimbang IPO. Executive Director Grab Indonesia Ongki Kurniawan mengatakan, beberapa startup masih terganjal persyaratan untuk IPO. Belum semua startup bisa mempersiapkan hal tersebut.

Baca juga: Peluang Kesuksesan Startup Hanya 5 Persen, Apa Sebabnya?

Grab sendiri memilih menghimpun dana secara privat melalui strategic partner. Salah satunya mitra strategis Grab adalah Microsoft yang disebut-sebut menyuntik dana segar sebesar 200 juta dollar AS.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X