Futurism: Economy of Faith and Hope

Kompas.com - 05/12/2018, 08:33 WIB
Ilustrasi.SHUTERSTOCK Ilustrasi.

 

Tak perlu waktu lama untuk saya berpikir, saya langsung menjawabnya dengan sedikit diplomatis: “Kalau kamu yakin ekonomi tahun depan akan oke, maka akan oke. Kalau kamu yakin ekonomi tahun depan tak lebih baik dari tahun ini, maka ekonomi tahun depan yah begitulah. Jadi, have faith my friend.”

Lucunya, dulu saya juga punya kebiasaan yang sama, suka bertanya ke banyak orang apakah masa depan akan lebih baik ,atau sebaliknya lebih buruk. Jawabannya macam-macam, tapi saya hanya ambil beberapa saja yang kedengarannya enak di kuping.

 

Pekerjaan saya menuntut saya melihat potensi dan risiko masa depan dengan teliti, sehingga hasil observasi saya dapat memberikan panduan terhadap kebijakan-kebijakan korporat yang resikonya terkendali namun peluang suksesnya masuk akal.

Kali ini saya akan sharing-kan pengalaman saya mengikuti sesi di Stanford bersama seorang futurist muda yang juga game designer yang saat ini menjadi bagian penting dari tim di IFTF (Institute For The Future), Dr. Jane McGonigal. Namanya sudah masuk sebagai salah satu global games guru.

Apakah besok bebih baik?

 

 

Bukankah Michelangelo ‘memahat’ patung Pieta dalam benaknya dahulu sebelum palu dan tatahnya benar-benar menembus bongkahan marmer italia yang anggun itu? Benar juga. McGonigal berhasil menyampaikan maksudnya.

Tom Chatfield dari The Guardian yang membuat resensi mengenai buku “Reality is Broken” tersebut mengingatkan kepada kita bahwa secara tradisional, fiksi ilmiah telah meramalkan tiga kemungkinan masa depan: the stable, the exponential, dan the solopsistic. Jangan khawatir soal terminologi yang susah diucapkan ini.

 

 

Nah yang ketiga, The Solopsistic, ini sungguh aneh, karena menyangkut semacam retreat – gerak mundur, untuk maju kembali ke dalam dunia yang sama sekali baru. Dalam hal ini, konteks dunia baru tersebut mengacu pada virtual world.

 

Ilustrasi.SHUTERSTOCK Ilustrasi.

 

Sepuluh atau dua puluh tahun lalu kita sudah memikirkan soal hari ini dalam bentuk fiksi ilmiah, dan hari ini adalah penciptaannya yang kedua kali – meminjam metafora Michelangelo yang memahat patung Pieta "dua kali".

 

Mereka adalah orang yang tak mau menunggu masa depan hadir di depan pintu rumah mereka. Mereka adalah pencipta-pencipta masa depan. Jujur saja, merekalah masa depan itu!

Futurism, ciptakan dulu di benakmu

 

Apa yang disebut-sebut ‘kejutan masa depan’, atau ‘future shock’ hanyalah kegundahan orang-orang awam seperti saya dan mungkin sebagian pembaca, karena pada akhirnya kesemuanya itu bukanlah sesuatu yang tak bisa kita prediksikan atau antisipasi jauh hari.

Terkait dengan solopsistic future, dalam pidato di acara wisuda di Universitas Stanford tahun 2005, CEO dan pendiri Apple Steve Jobs menyatakan demikian:

“Kamu tidak bisa menghubungkan titik-titik dengan melihat ke depan, kamu hanya bisa melakukannya dengan melihat ke belakang. Kamu harus percaya bahwa titik-titik itu – benang merah itu – dengan cara sedemikian rupa akan menghubungkan masa depanmu. Kamu harus percaya pada nyalimu, takdirmu, karmamu …. hal-hal itu membuat perbedaan besar dalam hidupku.” Inilah periode ‘retreat’ yang dimaksudkan Tom Chatfield dan McGonigal.

 

Futurism selalu berbicara soal probabilitas berdasarkan pola masa lampau. Pola masa lampau inilah bahan baku kita untuk menciptakan dunia virtual dengan fleksibilitas tanpa batas untuk berimajinasi, sementara dunia riil belum terjadi.

Faith and hope

Saya berharap beberapa teman yang menanyakan kepada saya apakah masih ada hari esok untuk bisnis-bisnis mereka juga bisa belajar memahami hal ini. Bukan soal self-fulfilling prophecies, nubuatan yang terjadi karena kita mempercayainya, tetapi bahwa melihat kemungkinan-kemungkinan di masa depan adalah sesuatu yang lumrah dan masuk akal.

 

 

Dan bila keraguan tiba, mari kita refleksikan apakah kita yang ada di puncak rantai makanan ini akan menyerah pada nasib dan masa depan?

? Marcus Aurelius. Have faith! 

Halaman:



Close Ads X