Tanpa Perubahan, Defisit APBN 2018 Diyakini Pecahkan Rekor

Kompas.com - 05/12/2018, 13:11 WIB
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan AskolaniKOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani

DENPASAR, KOMPAS.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meyakini, realisasi defisit APBN 2018 bisa lebih kecil dibandingkan asumsinya. Meski belum pasti, namun Kemenkeu menyebut defisit bisa di bawah 2 persen terhadap PDB.

Di APBN 2018, pemerintah mematok target defisit mencapai 2,19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ini mungkin pencapaiaan yang pertama kali bahwa kita bisa kendalikan defisit APBN dengan tanpa APBN-P," ujar Direktur Jenderal Anggaran, Kemenkeu, Askolani, Bali, Rabu (5/11/2018).

Askolani belum mau menyebut angka pasti perkiraan realisasi defisit APBN 2018. Meski begitu dari pantauan Kemenkeu kata dia, potensi defisit di di bawah 2 persen cukup besar.

Sebenarnya, angka defisit di bawah 2 persen pernah terjadi. Namun diyakini pecahkan rekor karena APBN 2018 tidak mengalami perubahan di tengah jalan atau tanpa APBN-P.

Padahal kata Askolani, setiap tahun pemerintah biasanya, mengajukan APBN-P ke DPR. Hal itu dilakukan dengan berbagai pertimbangan.

Mulai dari penerimaan pajak yang tidak optimal, belanja yang tak terkendali hingga menjaga defisit tak lewat dari 3 persen sesuai amanat UU Keuangan.

"Retapi tahun ini terbalik, sangat terbaik. Satu penerimaannya sangat baik, pajak maupun non pajak, belanjanya juga mulai cukup optimal, kemungkinan di bawah   dari target 2,19 persen," kata dia

Sebelumnya, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Oktober 2018 menunjukan angka yang positif.

Dari sisi pendapatan negara, realisasinya sebesar Rp 1.483,9 triliun, atau naik 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada akhir Oktober 2017 lalu, realisasi pendapatan negara hanya Rp 1.228 triliun, atau hanya tumbuh 3,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Realisasi penerimaan perpajakan Rp 1.160,7 triliun pada akhir Oktober 2018, atau tumbuh 17 persen dari akhir Oktober 2017. Tahun lalu, penerimaan perpajakan hanya tumbuh 0,5 persen.

Rinciannya, penerimaan pajak Rp 1.016,5 triliun, tumbuh 17,6 persen dan penerimaan bea cukai Rp 144,1 triliun, tumbuh 13,3 persen.

Sementara itu Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga tumbuh tinggi. Realisasinya mencapai Rp 315,4 triliun, tumbuh 34,5 persen dibandingkan akhir Oktober 2017.

Adapun sisa pendapatan negara berasal dari penerimaan hibah Rp 7,8 triliun, tumbuh 170,6 persen.

Meski melonjak tajam, penerimaan negara hingga 31 Oktober 2018 masih jauh dari target di APBN 2018 yakni sebesar Rp 1.897,7 triliun.

Adapun dari sisi belanja negara, realisasinya mencapai Rp 1.720,8 triliun, tumbuh 11,9 persen. Sementara target di APBN 2018 sebesar Rp 2.220,7 triliun.

Keseimbangan primer negatif Rp 23,8 triliun, sementara itu defisit anggaran mencapai Rp 237 triliun, atau 1, 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto.




Close Ads X