Petani Lereng Sindoro Kirim Produk Pertanian ke Pasar Modern hingga Luar Negeri

Kompas.com - 05/12/2018, 13:37 WIB
Petani organik dari lereng Gunung Merbabu, Pitoyo (41) di kebunnya.KOMPAS.com/NAZAR NURDIN Petani organik dari lereng Gunung Merbabu, Pitoyo (41) di kebunnya.

 

SEMARANG, KOMPAS.com – Produk pertanian organik ternyata sangat dibutuhkan pasar. Hal itu menjadi berkah tersendiri bagi Pitoyo (51) dan kelompok tani organiknya.

Pitoyo bersama Kelompok Tani Tranggulasi, di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang dengan pertanian organiknya sukses menembus pasar modern. Bahkan, produk pertanian organik di lereng Gunung Sindoro itu beberapa tahun lalu dikirim ke Malaysia dan Singapura.

Dalam sepekan, tiga kali kelompoknya mengirim produknya ke pasar modern. Ada 58 jenis produk yang dikirim rutin ke pasar modern di Jawa Tengah dan Yogyakarta ini.

“Ada 58 item yang dikirim, mulai dari sayur daun, umbi, sayur kacang, kubis, brokoli, buah, tomat sampai pare, wortel dan sebagainya. Itu kami rutin kirim tiga kali dalam seminggu,” ujar Pitoyo, saat ditemui Kompas.com di ladang perkebunannya, pekan ini.

Kelompok tani Tranggulasi, kata dia, kini tidak saja menjalankan pola menanam secara tumpangsari. Para petani juga mulai memahami pasar dari pertanian organik.

Baca juga: Harga Karet Jeblok, Jokowi Janji Pemerintah Beli dari Petani

Semula, pertanian organik banyak belum yang mengetahui, namun setelah ada yang pesan, itu kemudian berantai menjadi terkenal.

“Banyak buyer datang ke kami. Lalu lambat laun ada mitra lain yang pesan. Pada 2009 sampai 2015, kita kirim buncis Perancis, lalu sayur lain ke Malaysia dan Singapura,” ujarnya.

Menurut dia, ekspor pertanian yang langsung dari kelompoknya baik ke pasar modern, maupun pasar ekspor sangat menguntungkan. Namun, sayangnya ekspor ke dua negara sahabat itu sempat terhenti sementara waktu ini.

“Pengiriman ke Singapura dilakukan lewat kargo di bandara. Hasil pertanian kami juga ada sertifikat organik, dan kami mendapat penghargaan Presiden karena orientasi ke pasar modern,” sebut Pitoyo.

Baca juga: Pasokan Sayuran Ibukota Dioptimalkan dari Bantaran Kanal Banjir Timur

Untuk dapat meraih pasar dunia, kualitas produk harus terjaga. Namun, bagi kelompok tani proses ekspor membutuhkan kecakapan terutama soal mata uang, sebab ketika mengirim produk, pihaknya harus menyediakan tiga jenis mata uang, yaitu dollar AS, rupiah dan ringgit.

"Biasanya ekspor dilakukan perusahaan besar. Tapi kami dari kelompok tani bisa langsung ekspor. Tapi untuk ekspor banyak risiko, misalnya ketika ada kerusakan tidak dibayar, padahal ketika pengiriman itu sudah bagus, dan itu tidak bisa ngecek langsung," ucapnya.

Namun di pasar modern, polanya berbeda. Kelompok tani diberi fasilitas untuk berjualan dengan sistem tarik ganti. Ketika produk pertanian tidak laku atau kadaluarsa, akan diganti dengan produk baru.

Halaman:



Close Ads X