Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan Kumpulkan Iuran Rp 32 Miliar - Kompas.com

Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan Kumpulkan Iuran Rp 32 Miliar

Kompas.com - 07/12/2018, 05:59 WIB
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto  di  World Sharoushi Symposyium, Tokyo, Kamis (6/12/2018).KOMPAS.com/ERLANGGA DJUMENA Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto di World Sharoushi Symposyium, Tokyo, Kamis (6/12/2018).

TOKYO, KOMpAS.com - Hingga kini agen Perisai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan berhasil mengumpulkan iuran sebesar Rp 32 miliar dari para peserta yang direkrut mereka.  Adapun agen perisai sendiri sudah mencapai 4.000 orang, dengan jumlah yang aktif sebanyak 3.500 orang.

"Dilihat dari jumlah Perisai itu luar biasa. Dilihat dari jumlah yang direkrut juga luar biasa, kita sudah mencapai 400.000 peserta dengan nilai Rp 32 miliar," ucap Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto, di sela-sela World Sharoushi Symposyium di Tokyo, Kamis (6/12/2018).

Dalam acara itu sendiri Agus memaparkan perkembangan Perisai di hadapan delegasi negara yang juga mengadposi sistem Sharoushi ini.

Menurut Agus, pihaknya menghadapi tantangan demografi dan geografi untuk mempercepat penambahan kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai upaya untuk melindungi para pekerja melalui jaminan sosial. "Terutama untuk sektor informal bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah remote," ucap dia.

Baca juga: Apakah Perusahaan Sudah Benar Melaporkan Upah Anda ke BPJS Ketenagakerjaan? Cek di Aplikasi Ini

Melalui sistem keagenan Perisai ini, BPJS Ketenagakerjaan berupaya untuk memperluas cakupan kepesertaan dan pekerja informal atau Bukan Penerima Upah (BPU) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sistem keagenan ini mengadopsi model serupa yang dijalankan di Jepang, yakni Sharoushi dan Jimmikumiai.

Agus menyebutkan, Perisai merupakan adaptasi dari konsep Sharoushi yang disesuaikan dengan budaya dan regulasi Indonesia, serta kebutuhan dari BPJS Ketenagakerjaan, yakni untuk merekrut pekerja supaya terlindungi jaminan sosial.

"Jepang ini sudah di highlevel, mereka fungsinya bukan lagi merekrut, bukan lagi mendaftar, tapi dia sebagai konsultan antara perusahaan dengan buruhnya," ucapnya.

Di Jepang 99 persen pekerjanya pun sudah terlindungi jaminan sosial, sehingga tidak ada kebutuhan lagi untuk merekrut. Hal ini berbeda dengan Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan baru meraih 52 persen pekerja. Sehingga kebutuhan untuk merekrut pekerja masih besar.

"Sehingga kita lakukan dengan gradual, kita rekrut namanya yang namanya Perisai, fungsinya adalah sosialisasi, edukasi, menerima pendaftaran, kemudian meng-collect iuran dan administrasi lainnya, itu dulu yang kita rekrut," sebut dia.

Dia menyebut, pihaknya sudah mempunyai road map untuk mencapai tahapan hingga agen Perisai akhirnya bisa menjadi konsultan.

""Orang-orang ini kita didik, kita latih secara regular basis, kita sertifikasi. Sekarang basic level kemudian menjadi medium level, paling enggak dia ngerti sosial security, dia ngerti tentang regulasi ketenagakerjaan. Kemudian kita latih lagi hingga high level, di situ dia bisa berperan sebagai konsultan jaminan sosial," papar Agus.



Close Ads X