Futurism #2: Butterfly Effect

Kompas.com - 09/12/2018, 19:34 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.


SATU hari Minggu yang tak begitu indah. Seekor tikus menemukan remah-remah makanan. Ia makan sebutir. Lalu berjalan terus sembari memakan butiran-butiran selanjutnya.

Ia tak berpikir soal kemana butiran remah-remah itu akan membawanya: ke jebakan tikus, atau ke sumber remah-remah yang lebih aduhai.

Saat ia menemukan sumber remah-remah adalah sebuah kantong kertas yang berlubang di atas meja makan, ia balik ke sarangnya dan mengajak dua saudaranya untuk menyerbu kantong bolong itu ramai-ramai. Ia tak tahu isinya apa. Yang jelas enak.

Saat ketiganya sampai di meja, si empunya kantong sudah menunggu mereka dengan gagang sapu. Dalam sekali sabetan satu dari tiga tikus itu terlempar menghantam vas bunga cantik di meja. Vas pecah, bunga segar berhamburan.

Dua tikus yang selamat berlari ke dua arah yang berbeda. Si pemburu mengejar satu tikus sembari melempar sapu ke tikus lainnya. Luput. Sapu mengenai mouse laptop yang tak sengaja meng-klik tombol "send" di layar.

Tikus yang lain lari terkencing-kencing melintasi belakang TV dengan colokan-colokan stop kontak yang bertumpuk-tumpuk. Korslet. TV, DVD Player, Decoder TV Kabel, semuanya terbakar.

Kausalitas

Satu tikus mati. Dua selamat. Si pemburu – pemilik kantong kertas yang bolong – hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Malam harinya istrinya mengamuk vas bunga kesukaannya hancur. Itu vas bunga yang sangat sentimental.

Pagi harinya direktur perusahaan ngamuk, melihat materi email yang belum selesai sudah dikirimkan ke para pemegang saham.

Sore harinya ia harus membayar hampir 1.200 dolar untuk reparasi TV, DVD Player, Decoder dan beberapa piranti elektronik yang ikut korslet.

Kausalitas. Sebab akibat. Bukankah ini menggemakan kembali teori kekacauan Edward Lorenz tentang efek kepakan sayap kupu-kupu (butterfly effect)?

Lorenz, ahli matematika dan seorang meteorolog, menganalogikan bahwa kepakan saya kupu-kupu di hutan di Brazil secara teoretis dapat memicu munculnya badai tornado di wilayah Texas, ribuan mil jauhnya.

 

Benarkah bisa begitu?

Mari kita cermati kembali petualangan satu tikus yang menemukan remah-remah dalam kisah tadi.

Apakah ia bisa dipersalahkan atas memburuknya hubungan si pemilik kantong kertas dengan istrinya?

Apakah tikus itu harus bertanggungjawab atas dipecatnya si pemilik kantong kertas dari perusahaannya?

Bisakah, dalam konteks yang lebih ekstrem, suami dan istri bercerai gara-gara seekor tikus makan remah-remah?

Atau, seorang manajer perusahaan dipecat karena gagang sapu?

Hal sederhana yang memicu terobosan besar

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai Futurism: Economy of Faith and Hope telah sedikit disinggung mengenai bagaimana kita menghubungkan titik-titik di masa lampau, memahami polanya, dan memprediksikan probabilitas yang akan terjadi di masa depan.

Tulisan kali ini lebih teknis. Soal logika. Mungkin orang-orang IT akan menyebutnya dengan ‘algoritma’.
 
Futurism di dalam esensinya adalah proses belajar menciptakan ‘suatu produk’ dalam imajinasi.

Namun begitu, imajinasi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia lahir dari percikan-percikan pengalaman dan permenungan masa lampau.
 
Ungkapan Lorenz yang menyatakan bahwa kepakan sayap kupu-kupu, secara teori, sangat mungkin menjadi badai di belahan dunia lainnya, adalah refleksi dari probabilitas dalam Futurism.

Dengan kata lain, hal-hal sederhana yang menjadi serentetan kejadian (series of events) di masa lampau akan melahirkan terobosan besar dalam imajinasi dan pemikiran-pemikiran yang pada akhirnya bermuara ke suatu ‘produk final’ di dalam benak.

Produk final ini tinggal menunggu waktu yang tepat, sumber daya yang tepat, dan lingkungan yang tepat untuk meledak dalam dunia nyata. Oh ya, lingkungan yang dimaksud termasuk soal regulasi.

Futurism dan Inovasi

Beberapa simulasi yang dilakukan dalam proses inovasi bisnis dan produk sering mengacu pada hal-hal tadi. Nasihat terbaik untuk berinovasi dan memikirkan terobosan masa depan adalah dengan melihat apa yang kurang dari titik-titik event masa lampau.

Bila terobosan tersebut mampu mengisi setiap kekurangan di masa lampau, maka peluang untuk berhasilnya produk inovasi tersebut sangat tinggi. Bukan sekadar ada dan ‘fashionable’ atau keren, tetapi ada untuk suatu alasan yang belum terjawab di masa lampau.

Sekali lagi, hukum kausalitas berlaku.

Saat saya melihat pisau lipat Victorinox buatan Swiss misalnya, saya melihat mahakarya yang pada jamannya mungkin dicibiri. Bagi saya, pisau lipat itu adalah contoh disrupsi pertama saat revolusi industri sedang bertransformasi dari 2.0 menuju 3.0.

Ini adalah penemuan yang lebih spektakular ketimbang revolusi digital saat ini, karena pisau lipat itu adalah produk yang secara akurat menjawab kekosongan dari titik-titik di masa lampau untuk kebutuhan peralatan sehari-hari yang praktis, multiguna, dan tentu saja keren.

Cara anda memahami pisau lipat ini, jangan lihat apa yang bisa ia lakukan di masa depan, tetapi bagaimana awal mulanya sehingga ia lahir dan diciptakan.

 

Cara yang sama akan Anda pakai untuk melihat bagaimana akhirnya lahir perusahaan-perusahaan berbasis teknologi digital seperti Amazon, PayPall, Uber dan AirBnB. Keempat perusahaan itu telah direplikasi ratusan kali di seluruh dunia. Replikasi itu, meminjam istilah Lorenz, adalah tornadonya.

Ilustrasi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi.

Kita tidak bisa melihat mereka seperti adanya sekarang ini, tetapi lihatlah sepuluh dua puluh tahun lalu, kekosongan apa yang menarik perhatian Amazon dkk tersebut.

Hari ini Anda memang sedang melihat ‘badai tornadonya’, tapi apakah anda sudah berhasil melihat ‘kepakan sayap kupu-kupunya’? That’s my point.

Cara kebanyakan industri atau bisnis memperlakukan futurism adalah dengan menarik garis lurus dari hari ini ke masa depan, melihat badai tornado di depan sana.

Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple, tak akan setuju dengan metode ini. Kita, industri dan bisnis, seharusnya menarik garis dari satu titik di masa lampau ke titik di hari ini.

Kita harus mampu melihat kepakan sayap kupu-kupu itu dulu sebelum berbicara soal tornadonya. Begitulah protokolnya.

Hanya dengan cara ini, imajinasi-imajinasi kita tak hanya berisi sampah busuk, tetapi gagasan-gagasan yang menjawab tantangan dan kebutuhan masa depan.

“So many things are possible as long as you don’t know they are impossible.” – Mildred D. Taylor.

Lupakan tornadonya. Semoga kita segera menemukan kepakan sayap kupu-kupu itu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waskita Jual 30 Persen Saham Tol Medan-Tebing Tinggi ke Investor Asing

Waskita Jual 30 Persen Saham Tol Medan-Tebing Tinggi ke Investor Asing

Whats New
IHSG Bakal Bangkit? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Bakal Bangkit? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Merosot 20 Dollar AS, Harga Emas Turun ke Level Terendah 11 Bulan

Merosot 20 Dollar AS, Harga Emas Turun ke Level Terendah 11 Bulan

Whats New
Sri Mulyani Sebut Tingkat Konsumsi 30 Persen Penduduk Termiskin RI Sudah Berangsur Pulih

Sri Mulyani Sebut Tingkat Konsumsi 30 Persen Penduduk Termiskin RI Sudah Berangsur Pulih

Whats New
Pemerintah Pastikan Tarif Listrik hingga Juni 2021 Tidak Naik, Ini Rinciannya

Pemerintah Pastikan Tarif Listrik hingga Juni 2021 Tidak Naik, Ini Rinciannya

Whats New
Mau Bisnis Makanan? Simak Dulu 7 Tips Ini

Mau Bisnis Makanan? Simak Dulu 7 Tips Ini

Smartpreneur
[POPULER MONEY] Tarif Listrik PLN Periode April-Juni 2021 |  Kekayaan Elon Musk Hilang Rp 378 Triliun

[POPULER MONEY] Tarif Listrik PLN Periode April-Juni 2021 | Kekayaan Elon Musk Hilang Rp 378 Triliun

Whats New
Di Depan Ratu Belanda, Sri Mulyani Paparkan Masalah Kesenjangan Akses Keuangan Perempuan RI

Di Depan Ratu Belanda, Sri Mulyani Paparkan Masalah Kesenjangan Akses Keuangan Perempuan RI

Whats New
Contoh Daftar Riwayat Hidup dengan Format yang Baik dan Benar

Contoh Daftar Riwayat Hidup dengan Format yang Baik dan Benar

Work Smart
Amankan Pasokan Bawang Merah Saat Lebaran, Sang Hyang Seri Gandeng PT Alami Orion Agrotama

Amankan Pasokan Bawang Merah Saat Lebaran, Sang Hyang Seri Gandeng PT Alami Orion Agrotama

Whats New
Simulasi KPR di 4 Bank BUMN, Mudah dan Akurat

Simulasi KPR di 4 Bank BUMN, Mudah dan Akurat

Spend Smart
Bisnis Resto Terempas, Virtual Dining Concept Sebuah Solusi?

Bisnis Resto Terempas, Virtual Dining Concept Sebuah Solusi?

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Tips Membeli Rumah Pertama | Aspek Penting Membangun Tangga di Hunian Kecil | Mengenali Tanda Serangan Rayap di Rumah

[KURASI KOMPASIANA] Tips Membeli Rumah Pertama | Aspek Penting Membangun Tangga di Hunian Kecil | Mengenali Tanda Serangan Rayap di Rumah

Rilis
Ekonom: Kalau Enggak Mau Kebanjiran Impor, Jangan Ikut Kerja Sama Dagang!

Ekonom: Kalau Enggak Mau Kebanjiran Impor, Jangan Ikut Kerja Sama Dagang!

Whats New
Waskita dan HK Siap Lepas Ruas Tol yang Dikelola untuk LPI

Waskita dan HK Siap Lepas Ruas Tol yang Dikelola untuk LPI

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X