Proyeksi, Peluang, dan Tantangan Investasi 2019

Kompas.com - 10/12/2018, 11:39 WIB
Ilustrasi investasiTHINKSTOCKS/RIKKYAL Ilustrasi investasi

TIDAK terasa tahun 2018 hanya kurang dari 1 bulan. Sepanjang tahun 2018, pergerakan nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana bisa dikatakan sangat fluktuatif karena dipengaruhi berbagai isu domestik dan eksternal.

Nah, bagaimana dengan tahun 2019 ?

Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi rupiah dan dollar ASTHINKSTOCKS Ilustrasi rupiah dan dollar AS
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tahun 2018 bisa diibaratkan seperti roller coaster. Dari 13.000an ke 14.000an kemudian dalam waktu tiba-tiba menembus angka Rp 15.000 dan sekarang kembali lagi ke 14.000an.

Pada dasarnya yang namanya nilai tukar itu naik atau turun mengikuti prinsip permintaan dan penawaran. Ketika permintaan dollar AS naik, maka nilainya akan meningkat dan sebaliknya pula ketika permintaannya turun.

Kenaikan permintaan akan dollar AS pada tahun ini disebabkan karena 3 hal. Yakni kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), kondisi ekonomi AS yang meningkat pesat, dan kenaikan harga minyak pada awal hingga pertengahan tahun.

Kenaikan tingkat suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sangat bagus pada tahun 2018 ini membuat dana dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia berbondong-bondong kembali ke sana. Akibatnya permintaan terhadap dolla AS naik. Mata uang dollar AS tidak hanya menguat terhadap rupiah saja tapi juga mata uang lain negara lainnya.

Harga minyak yang sempat naik tinggi hingga hampir mencapai 80 dollar AS per barrel juga ikut meningkatkan permintaan dollar AS.  Indonesia sendiri merupakan negara net importir minyak, sehingga kalau harganya naik maka kebutuhan impor dalam dollar AS juga akan semakin banyak.

Kombinasi dari ketiga faktor di atas, membuat kebutuhan akan dollar AS meningkat pesat pada tahun 2018. Dalam konteks APBN, situasi dimana dana yang keluar dari Indonesia lebih banyak daripada dana yang masuk disebut dengan Defisit Transaksi Berjalan atau Current Account Deficit (CAD).

Selama ini CAD Indonesia selalu di kisaran minus 2 persen alias defisit. Namun kombinasi dari faktor di atas membuat defisit CAD pada Juni 2018 ini meningkat menjadi 3 persen. Secara historis, angka  3 persen termasuk tinggi sehingga membuat nilai tukar rupiah melemah hingga ke 15.000an.

Untuk tahun 2019, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan stabil di kisaran Rp 14.200. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa, Amerika Serikat berdasarkan data-data yang ada menunjukkan tanda-tanda akan menuju resesi (pelambatan ekonomi) di tahun 2020 dan harga minyak yang kembali turun.

Untuk mencegah agar perekonomiannya masuk ke resesi di tahun 2020, ada kemungkinan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mengambil kebijakan suku bunga yang cenderung tidak agresif di tahun 2019. Kenaikan suku bunga The Fed bisa naik hanya 1-2 kali dari rencana awal 3 kali, bahkan bukan tidak mungkin akan turun di akhir 2019 atau 2020

Untuk harga minyak, kondisi saat ini bisa dikatakan sedang oversupply karena Amerika Serikat yang dulunya importir minyak sekarang hanya soal waktu sebelum menggeser Arab Saudi sebagai negara eksportir minyak terbesar di dunia.

Perkembangan teknologi telah membuat cadangan minyak serpih (shale oil) dalam jumlah besar dapat diproduksi dengan harga yang lebih ekonomis dan Amerika Serikat sebagai salah satu pemilik cadangan minyak serpih terbesar di dunia.

Gejolak harga minyak yang selama ini timbul juga bukan berasal dari kenaikan permintaan, tetapi lebih kepada penawaran dari para produsen. Kenaikan harga yang bukan karena faktor penawaran biasanya tidak bertahan lama.

Halaman:



Close Ads X