KILAS EKONOMI

Populasi Sapi Indonesia Meningkat, Malaysia Ingin Belajar

Kompas.com - 12/12/2018, 16:33 WIB
Ketua delegasi Malaysia En Leonard Wilfred Yussin (kiri) bersama Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjatur Rasa (kanan) saat bertemu di Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (12/12/2018).
Dok. Humas Kementerian Pertanian RI Ketua delegasi Malaysia En Leonard Wilfred Yussin (kiri) bersama Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjatur Rasa (kanan) saat bertemu di Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (12/12/2018).

KOMPAS.com - Keberhasilan Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) telah memicu Malaysia mengirimkan tim untuk memelajari strategi pembangunan peternakan ruminansia (sapi, kambing/domba) di Indonesia.

"Hasil dari pengiriman tim tersebut akan menjadi bahan masukan bagi Malaysia dalam finalisasi kajian pembentukan Lembaga Ruminan Negara," kata Ketua Tim Malaysia En Leonard Wilfred Yussin yang berasal dari Timbalan Setiausaha Bahagian Industri Tanaman, Ternakan dan Perikanan.

Dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima, Rabu (12/12/2018), En Leonard dan kawan-kawan datang ke Kantor Kementerian Pertanian ( Kementan) pada hari pertama kunjungan, Rabu (10/12/2018).

Pada kesempatan tersebut, Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan, salah satu upaya dalam mendukung Upsus Siwab adalah Penanggulangan Gangguan Reproduksi untuk meningkatkan jumlah Akseptor Inseminasi Buatan.

Baca juga: Mentan: Peternak Lokal akan Penuhi Kebutuhan Daging Sapi dalam Negeri

Strategi lainnya adalah pelarangan pemotongan sapi betina produktif yang telah dipayungi oleh peraturan perundangan di Indonesia. Terkait hal ini Kementan bekerja sama dengan berbagai pihak mensosialisasikannya kepada masyarakat. 

"Ditjen Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) bekerja sama dengan pihak Kepolisian dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya sapi betina produktif untuk meningkatkan populasi guna pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia," terang Fadjar.

Selain itu, Fadjar juga menambahkan tentang berbagai strategi Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan pakan ternak ruminansia. Di antaranya melalui optimalisasi pemanfaatan lahan eks tambang sebagai lokasi produksi hijauan dan penggunaan teknologi pembuatan silase untuk pengawetan pakan.

Delegasi Malaysia (kiri) berkunjung Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (12/12/2018).DOK. Humas Kementerian Pertanian RI Delegasi Malaysia (kiri) berkunjung Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (12/12/2018).
Adapun terkait kunjungan tim Malaysia, Fadjar mengatakan bahwa hal ini menjadi kesempatan bagus bagi Indonesia. Kesempatan untuk meyakinkan Malaysia bahwa penanganan ternak di Indonesia khususnya ternak ruminansia telah menghasilkan produk berkualitas internasional baik dari segi kualitas, keamanan, dan kesehatan hewannya.

"Hal ini untuk mendukung ekspor daging sapi wagyu yang saat ini siap diekspor dari Indonesia ke Malaysia," kata dia. 

Perlu diketahui, En Leonard berkunjung ke Indonesia dari 10 hingga 12 Desember 2018.

Selama berkunjung dia didampingi Yusian B Sanuddin (Ketua Penolong Bahagian Pembangunan Komoditi Ternakan, Jabatan Perkhidmatan Veteriner), dan Norhanita bt Jumali (Ketua Penolong Pasukan Kajian Pasukan Interim Lembaga Ruminan Negara, IITP).

Populasi sapi meningkat

Bukan tanpa alasan Malaysia datang ke Indonesia. Ini karena program Upsus Siwab telah berhasil meningkatkan jumplah populasi sapi nasional.

Baca jugaBerkat Upsus Siwab, Kelahiran Anak Sapi Hasil Inseminasi Buatan Tinggi

Direktur Jenderal PKH I Ketut Diarmita ditemui secara terpisah mengatakan, adanya peningkatan populasi sapi melalui inseminasi buatan.

Menurut dia, berdasarkan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Terintegrasi (iSIKHNAS) , sejak pelaksanaan Upsus Siwab tahun 2017 hingga 4 Desember 2018 sudah lahir 2.538.766 ekor dari indukan sapi milik peternak di Indonesia.

”Ini sebuah catatan kinerja fantastis dan patut kita banggakan. Ini bukti nyata bahwa lompatan populasi sapi atau kerbau sebesar 3,83 persen pada periode 2015-2018. Dibandingkan pada periode 2012 – 2014 yang hanya 1,03 persen adalah benar adanya (Statistik Ditjen PKH Tahun 2018),” ungkap I Ketut.

Sebagai informasi, selain berkunjung ke Kementan, delegasi asal Malaysia diajak untuk berkunjung ke Balai Embrio Cipelang (BET) Cipelang, Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Koperasi Pengolahan Susu Bandung Utara.

Mereka juga diajak ke perusahaan swasta yang bergerak dibidang penggemukan sapi di Lampung, yakni PT Great Giant Livestock dan PT Santosa Agrindo.

Indonesia sendiri merupakan negara pertama yang dikunjungi oleh tim tersebut. Setelah dari sini mereka akan berkunjung ke New Zealand, India, Thailand dan Vietnam. 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X