Indonesia Harus Manfaatkan Tingginya Permintaan Produk Halal

Kompas.com - 18/12/2018, 18:19 WIB
Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar ketika ditemui awak media di sela penyelenggaraan Indonesia Shariaa Economic Festival di Surabaya, Kamis (13/12/2018). Kompas.com/Mutia FauziaStaf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar ketika ditemui awak media di sela penyelenggaraan Indonesia Shariaa Economic Festival di Surabaya, Kamis (13/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas memandang Indonesia harus bisa memanfaatkan tingginya permintaan produk halal dari pasar internasional.

Potensi ini belum begitu dioptimalkan Indonesia.

"Besarnya permintaan pasar global terhadap makanan halal merupakan kesempatan yang perlu dioptimalkan dan diambil," kata Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Amalia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi dan berpeluang menjadi pemain utama sebagai produsen produk halal di dunia. Karena itu, dibutuhkan kerja sama yang baik dengan negara-negara lain.

Baca juga: Bappenas: Indonesia Tidak Masuk Peta Negara Pengekspor Produk Halal

Kemudian, dibutuhkan pula evaluasi terkait regulasi, tata kelola, dan standar produk halal yang dapat diterima seluruh masyarakat Indonesia dan global.

"Sehingga nantinya dapat menjadikan Indonesia sebagai pemain utama makanan halal di tingkat dunia," ujarnya.

Amalia menyebutkan, diperkirakan populasi muslim dunia mencapai 2,2 miliar pada 2030. Pertumbuhan pesat ini menjadi potensi luar biasa dan akan meningkatkan permintaan produk halal.

Potensi ini pula yang telah dilirik negara-negara lain. Pada saat yang sama, pasar konsumsi global telah menunjukkan proporsi yang cukup besar.

The State of the Global Islamic Economy 2018 melaporkan bahwa total konsumsi makanan halal mencapai 817 miliar dolar AS. Indonesia merupakan konsumen makanan halal terbesar yang mencapai 170 miliar dolar AS.

"Peringkat ini merupakan bukti besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap makanan halal," paparnya.

Baca juga: Bappenas Ingin Indonesia Jadi Produsen Utama Produk Halal di Dunia

Ia menambahkan, besarnya angka konsumsi makanan halal Indonesia merupakan peluang sekaligus tantangan. Apalagi, kini Indonesia belum masuk lima besar produsen produk makanan halal global.

Indonesia berpeluang menjadi pasar makanan halal dengan populasi muslim yang sangat besar. Tak hanya itu, Indonesia juga bisa menjadi pemain utama produsen makanan halal ke depannya.

"Oleh sebab itu, dibutuhkan penguatan inovasi terhadap produk makanan halal, sehingga dapat diterima di level nasional maupun internasional. Inovasi tidak cukup tanpa meyakinkan pentingnya kualitas, kehigienisan, dan kehalalan sebuah produk, sehingga layak menjadi pilihan masyarakat," sebut Amalia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wall Street Menguat, Saham Citigroup dan Paramount Global Melesat

Wall Street Menguat, Saham Citigroup dan Paramount Global Melesat

Whats New
Soal Jabatan Lin Che Wei di Kemenko Perekonomian, Ini Kata Pemerintah

Soal Jabatan Lin Che Wei di Kemenko Perekonomian, Ini Kata Pemerintah

Whats New
Profil Lin Che Wei, dari Ekonom hingga Penasihat Banyak Menteri

Profil Lin Che Wei, dari Ekonom hingga Penasihat Banyak Menteri

Whats New
Ini Peran Lin Che Wei dalam Kasus Dugaan Korupsi Minyak Goreng

Ini Peran Lin Che Wei dalam Kasus Dugaan Korupsi Minyak Goreng

Whats New
Soal Telkom Rugi Investasi di GoTo, Stafsus Erick Thohir: Ini Bisnis Jangka Panjang, Bedakan dengan Jiwasraya

Soal Telkom Rugi Investasi di GoTo, Stafsus Erick Thohir: Ini Bisnis Jangka Panjang, Bedakan dengan Jiwasraya

Whats New
4 BUMN Mengantre untuk Dibubarkan

4 BUMN Mengantre untuk Dibubarkan

Whats New
Cara Top Up ShopeePay lewat ATM BRI, BCA, BNI, dan Mandiri

Cara Top Up ShopeePay lewat ATM BRI, BCA, BNI, dan Mandiri

Spend Smart
Simak 5 Cara Cek Resi Anteraja lewat Ponsel dengan Mudah

Simak 5 Cara Cek Resi Anteraja lewat Ponsel dengan Mudah

Whats New
Lawan Perubahan Iklim, Raksasa Teknologi NTT Ltd Luncurkan Layanan IoT Keberlanjutan untuk Korporasi

Lawan Perubahan Iklim, Raksasa Teknologi NTT Ltd Luncurkan Layanan IoT Keberlanjutan untuk Korporasi

Rilis
Kilang Pertamina 5 Kali Terbakar dalam 2 Tahun

Kilang Pertamina 5 Kali Terbakar dalam 2 Tahun

Whats New
Kemenhub Ungkap Alasan Tak Jadi Berlakukan Pembebasan Tarif Tol Jika Macet Saat Mudik Lebaran

Kemenhub Ungkap Alasan Tak Jadi Berlakukan Pembebasan Tarif Tol Jika Macet Saat Mudik Lebaran

Whats New
Mudah, Begini Cara Mencari ATM Bank DKI Terdekat lewat HP

Mudah, Begini Cara Mencari ATM Bank DKI Terdekat lewat HP

Whats New
RI-Jepang Buka Program Pelatihan Perawat Lansia

RI-Jepang Buka Program Pelatihan Perawat Lansia

Rilis
Resmi, Ini Daftar 11 Nama Badan Perwakilan Anggota AJB Bumiputera yang Lolos Fit and Proper Test

Resmi, Ini Daftar 11 Nama Badan Perwakilan Anggota AJB Bumiputera yang Lolos Fit and Proper Test

Whats New
BPJS Kesehatan Diminta Tingkatkan Literasi Masyarakat tentang Asuransi Sosial

BPJS Kesehatan Diminta Tingkatkan Literasi Masyarakat tentang Asuransi Sosial

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.