Defisit Neraca Dagang 7,5 Miliar Dollar AS, Hal yang Serius

Kompas.com - 20/12/2018, 09:00 WIB
Ekonom senior Institute fot Development of Economics and Finance, Faisal Basri, saat mengisi acara MNC Sekuritas di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2017). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Ekonom senior Institute fot Development of Economics and Finance, Faisal Basri, saat mengisi acara MNC Sekuritas di Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (9/11/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com -  Ekonom Faisal Basri menilai defisit neraca dagang Indonesia yang mencapai 7,5 miliar dollar AS hingga November 2018 merupakan hal yang serius.

"Defisit 7,5 miliar dollar AS bukan sesuatu yang sederhana. Kalau kita lihat rata-rata bulanannya, dalam 8 bulan pada 2018 selalu defisit," ujarnya di acara seminar persaingan usaha, Jakarta, Rabu (19/12/2018).

"Jadi ini serius benar selama 8 dalam 11 bulan kita defisit perdagangan," sambung dia.

Menurut Faisal, defisit neraca dagang yang mencapai 7,5 miliar dollar AS itu merupakan sejarah baru dalam perjalanan panjang neraca dagang Indonesia.

"Tidak pernah Indonesia setelah merdeka itu defisit perdagangan barangnya sampai 7,5 miliar dollar AS, tidak pernah. Jadi Ini sejarah baru sejak tahun 1945," kata dia.

Salah satu penyumbang terbesar defisit neraca dagang adalah impor migas yang membengkak. Ia pun menilai hal ini akibat kebijakan reformasi yang tak tuntas.

"Reformasi di era Pak Jokowi hanya berlangsung setahun pertama, setelah itu lupa semua untuk urusan minyak saja. Syukur gas masih surplus sehingga defisit migas 12,2 miliar dollar AS. Angka yang besar juga tentu saja," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, penyebab utama anjloknya neraca dagang November 2018 lebih banyak disebabkan faktor eksternal.

Ia menegaskan, defisit neraca dagang yang mencapai 2,05 milliar dollar AS pada November 2018 bukan lantaran struktur ekonomi Indonesia lemah.

Bila dilihat lebih dalam kata dia, maka ekspor Indonesia ke China dan AS memang mengalami penurunan pada November 2018. Hal ini disebabkan pengaruh perang dagang yang berimbas kepada permintaan ekspor dari Indonesia.

Namun penurunan ekspor terbesar bukan terjadi ke kedua negara mitra dagang utama Indonesia itu. Justru penurunan ekspor lebih besar terjadi ke India.

Darmin mengatakan, penurunan ekspor ke India disebabkan akibat kebijakan bea masuk yang tinggi untuk CPO Indonesia.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X