Bagaimana Dampak Perlambatan Ekonomi AS Terhadap Investasi Reksa Dana? Halaman all - Kompas.com

Bagaimana Dampak Perlambatan Ekonomi AS Terhadap Investasi Reksa Dana?

Kompas.com - 20/12/2018, 11:53 WIB
Ilustrasi pialang sahamthikstockphotos Ilustrasi pialang saham

Belakangan ini, pembahasan tentang kemungkinan terjadinya resesi atau perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) semakin banyak bisa ditemui. Bagaimana dampaknya terhadap investasi saham, obligasi dan reksa dana di Indonesia?

Baca: Apakah Amerika Serikat Akan Mengalami Resesi di Tahun 2020?

Per tanggal 19 Desember 2018 indeks S&P 500 yang merupakan cerminan dari nilai saham 500 perusahaan terbesar di AS turun ke 2567. Titik tertinggi pada tahun 2018 adalah pada 2930 bulan September 2018.

Jika diukur dari titik tertingginya, Indeks saham S&P 500 sudah turun 12 persen dari titik tertingginya hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Dibandingkan posisi pada awal tahun, juga terhitung -4.77 persen.

Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan kondisi perekonomian AS yang sangat baik pada tahun 2018 ini.

Tingkat pengangguran rendah dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Sampai pada bulan September, sebenarnya angka S&P 500 di 2930 juga merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir.

Turunnya harga saham ini bisa disebabkan karena tensi perang dagang antara China dan AS yang terus bergejolak. Namun bisa juga karena turunnya harga saham merefleksikan kekhawatiran akan terjadinya resesi pada tahun-tahun mendatang.

Sebagaimana diketahui resesi AS yang terakhir terjadi pada periode Desember 2007 - Juni 2009. Pada tahun 2008, penurunan harga saham yang dalam tidak hanya terjadi pada AS tapi juga pada investasi reksa dana di Indonesia.

Ada kekhawatiran efek dari resesi di AS ini juga akan berdampak pada investasi saham, obligasi dan juga reksa dana di Indonesia. Seperti apa analisanya?

Yang menjadi perhatian ketika ada suatu prediksi akan terjadinya resesi berdasarkan data-data perekonomian, adalah bagaimana reaksi dari Bank Sentral AS atau dikenal The Fed.

Secara teori, ketika kondisi perekonomian tumbuh terlalu cepat, biasanya Bank Sentral akan melakukan upaya untuk memperlambat pertumbuhan. Sebaliknya ketika kondisi perekonomian menunjukkan tanda-tanda akan melambat, bank sentral akan melakukan upaya untuk mempercepat pertumbuhan.

Salah satu alat yang digunakan adalah kebijakan suku bunga. Untuk mempercepat, maka suku bunga akan dinaikkan, sebaliknya untuk memperlambat maka suku bunga akan diturunkan.

Sebagaimana diketahui suku bunga AS atau Fed Fund Rate sudah dinaikkan 3 kali hingga bulan November dan diperkirakan akan naik lagi 1 kali pada bulan Desember ini. Kemudian untuk tahun 2019, diperkirakan akan naik sekitar 3-4 kali.

Jika bunga terus naik, maka kemungkinan akan terjadinya resesi akan semakin besar. Logika saja, ketika ekonomi sedang melambat, bunga kredit yang naik akan semakin membebani perusahaan.

Idealnya ketika tahu akan terjadi resesi atau perlambatan pertumbuhan ekonomi, bank sentral akan menurunkan tingkat suku bunga supaya kemungkinannya mengecil atau tetap turun tapi tidak “hard landing”.

Untuk itu, kemungkinan Fed Fund Rate pada tahun 2019 akan naik 3-4 kali mungkin saja akan berubah. Bisa jadi hanya naik 1 kali saja atau jika dibutuhkan, bisa turun pada akhir tahun untuk merespon data-data perekonomian.

Jika skenario ini terjadi, maka akan berdampak positif bagi Indonesia. Pertama, Bank Indonesia tidak akan terlalu terbeban untuk menaikkan tingkat suku bunga untuk menandingi suku bunga di AS. Kedua, nilai tukar Rp bisa menguat. Ketiga, harga obligasi dan reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi di obligasi bisa meningkat.

Sebaliknya jika skenario di atas tidak terjadi, dimana Bank Sentral AS tetap konsisten meningkatkan bunga hingga 3-4 kali yang diikuti aksi Bank Indonesia menaikkan BI Rate, maka penurunan harga obligasi dan reksa dana pendapatan tetap bisa terjadi di tahun 2019.

Sejauh ini, skenario yang kemungkinan akan terjadi adalah kenaikan bunga yang tidak seagresif tahun 2018. Walaupun sifatnya masih perkiraan, mudah-mudahan skenario ini yang akan terjadi di tahun 2019 nanti.

 

Investasi Saham

Bagaimana dengan saham? Katakanlah ternyata harga saham AS mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2019, apakah juga akan berdampak negatif terhadap harga saham Indonesia seperti tahun 2008?

Investasi saham atau reksa dana saham merupakan investasi yang karakternya high risk high return. Selain itu, penyebab naik turunnya terkadang bukan hanya satu faktor tapi berbagai faktor baik berasal dari domestik ataupun luar negeri.

Pertanyaannya, apakah naik turunnya harga saham di AS berdampak besar terhadap saham Indonesia. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan penelitian untuk mengukur seberapa kuat korelasi antara Saham AS dengan Saham Indonesia.

Jika korelasinya kuat, maka bisa jadi kalau saham AS turun maka saham Indonesia juga akan turun. Sebaliknya jika korelasinya lemah, maka mau saham AS naik atau turun, tidak perlu terlalu dipikirkan karena efeknya kecil terhadap Indonesia.

Secara statistik, angka korelasi dinyatakan dalam angka antara -1 s/d 1. Jika angkanya lebih besar dari 0.5, maka artinya korelasi kuat. Jika angkanya di bawah 0.5 berarti korelasinya lemah.

Angka positif dan negatif menyatakan sifatnya. Jika angkanya positif, berarti saham AS dan Indonesia kalau naik itu sama-sama naik dan turun sama-sama turun. Jika angkanya negatif, berarti kalau saham AS naik, maka saham Indonesia bisa turun.

Penelitian menggunakan data IHSG dan S&P 500 dari tahun 2001 sampai Desember 2018. Angka korelasi dihitung per tahun menggunakan data return bulanan. Hasilnya adalah sebagai berikut:

IHSG dan S&P 500 – Return dan Korelasi 2001 - 2018

Tahun IHSG S&P 500 Korelasi Keterangan

Tahun

IHSG

S&P 500

Korelasi

Keterangan

2001

-5.83%

-13.04%

0.26

Lemah dan Positif

2002

8.39%

-23.37%

-0.02

Lemah dan Negatif

2003

62.82%

26.38%

0.63

Kuat dan Positif

2004

44.56%

8.99%

0.29

Lemah dan Positif

2005

16.24%

3.00%

0.48

Lemah dan Positif

2006

55.30%

13.62%

0.79

Kuat dan Positif

2007

52.08%

3.53%

0.20

Lemah dan Positif

2008

-50.64%

-38.49%

0.68

Kuat dan Positif

2009

86.98%

23.45%

0.80

Kuat dan Positif

2010

46.13%

12.78%

0.68

Kuat dan Positif

2011

3.20%

0.00%

0.56

Kuat dan Positif

2012

12.94%

13.41%

0.72

Kuat dan Positif

2013

-0.98%

29.60%

0.50

Kuat dan Positif

2014

22.29%

11.39%

-0.20

Lemah dan Negatif

2015

-12.13%

-0.73%

0.56

Kuat dan Positif

2016

15.32%

9.54%

-0.08

Lemah dan Negatif

2017

19.99%

19.42%

-0.33

Lemah dan Negatif

2018*

-4.31%

-4.77%

0.49

Lemah dan Positif

*Hingga 18 Desember 2018

Sumber : Yahoo Finance, diolah

Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa return antara IHSG dan S&P 500 terkadang beriringan terkadang juga tidak.

Memang pada beberapa kesempatan sama-sama turun, tapi juga pernah salah satu naik dan salah satu turun.

Kemudian berdasarkan analisa korelasi, bisa dilihat bahwa korelasi antara IHSG dan S&P 500 tidak konsisten. Kadang kuat dan kadang lemah. Kemudian bisa dari negatif pindah jadi positif dan sebaliknya.

Berdasarkan tabel di atas, maka naik turunnya harga saham di AS yang direpresentasikan oleh S&P 500 tidak perlu dikhawatirkan akan berdampak pada saham Indonesia karena sifatnya tidak konsisten.

Kalaupun kebetulan saham Indonesia turun bersamaan, bisa saja itu disebabkan karena faktor lainnya yang waktunya bersamaan.

Secara fundamental, pendapatan dan laba bersih perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tetap tumbuh di 2018 dan diperkirakan masih tumbuh di 2019. Dengan IHSG yang terkoreksi sehingga valuasi menjadi semakin murah dan dana asing yang mulai melirik kembali negara berkembang seperti Indonesia, peluang terjadinya rebound harga sangat mungkin terjadi di 2019.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.


Page:


Close Ads X