Ini Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan di 6 Persen

Kompas.com - 20/12/2018, 16:21 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berbincang dengan anggota delegasi peserta acara Seminar Bank Internasional yang merupakan rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Group Bank 2018 di Bali Internasional Conventioan Center, Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10). Dalam sambutannya Perry Warjiyo mengajak peserta pertemuan tahunan untuk menikmati keindahan Bali sebelum kembali ke negaranya. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun/wsj/2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun/wsj/2018.Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berbincang dengan anggota delegasi peserta acara Seminar Bank Internasional yang merupakan rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Group Bank 2018 di Bali Internasional Conventioan Center, Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10). Dalam sambutannya Perry Warjiyo mengajak peserta pertemuan tahunan untuk menikmati keindahan Bali sebelum kembali ke negaranya. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun/wsj/2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada 19-20 Desember 2018 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7-day Repo Rate di level  6 persen.

Padahal, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, dalam pertemuan Federal Open Market Committe (FOMC) selama 18-19 Desember 2019 waktu setempat telah menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) menjadi di kisaran 2,25 persen hingga 2,5 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini dilakukan lantaran pada kenaikan suku bunga acuan November lalu, BI telah memperhitungan kenaikan FFR di bulan Desember ini dan beberapa bulan yang akan datang.

Baca juga: Akhir Tahun, BI Tahan Suku Bunga Acuan Pada 6 Persen

"Kita tidak menunggu, tetapi mendahului subagai bagian dari upaya menjaga daya tarik pasar keuangan domestik juga menurunkan CAD (current account deficit/defisit transaksi berjalan). Pada bulan November sudah kami sampaikan kenaikan suku bunga sudah mem-price in kenaikan (FFR) di Desember dan di beberapa bulan ke depan," ujar Perry ketika memberikan keterangan pers hasil RDG di kantor BI, Kamis (20/12/2018).

Perry pun menyatakan, meskipun di tahun 2019 mendatang kondisi perekonomian dan keuangan global masih diliput risiko, namun dirinya optimis kondisi tahun depan masih lebih baik dibandingkan tahun ini.

Kenaikan suku bunga The Fed, ujar Perry, tidak akan seagresif tahun ini, di mana The Fed telah menaikkan FFR sebanyak 4 kali.

Baca juga: The Fed Akhirnya Naikkan Suku Bunga Acuan

BI pun memperkirakan, kenaikan suku bunga The Fed tahun depan kemungkinan sebanyak dua kali. Adapun sebelumnya, BI memperkirakan bank sentral AS tersebut akan menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2019.

"Risikonya tetap akan kami pantau, tetapi kadar risikonya lebih rendah dari perkiraan kami sebelumnya," ujar Perry.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X