Tsunami Banten Sempat Buat Kapal Sulit Bersandar di Pelabuhan Merak

Kompas.com - 23/12/2018, 10:34 WIB
Kondisi Kendaraan Pemudik Yang Akan Menyeberang dari Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten Menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Jumat (23/6/2017).KOMPAS.com/ MOH NADLIR Kondisi Kendaraan Pemudik Yang Akan Menyeberang dari Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten Menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Jumat (23/6/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Gelombang tinggi menerjang wilayah pantai di kawasan Selat Sunda, pada Sabtu (22/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gelombang itu merupakan tsunami.

Gelombang tinggi itu juga sempat mempengaruhi aktivitas sandar kapal di Pelabuhan Merak, Banten. Akibat tingginya gelombang air laut, kapal yang hendak bersandar ke dermaga mengalami kesulitan.

"Terdampak juga (akibat tsunami)," kata Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Mario Sardadi Oetomo kepada Kompas.com, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Baca juga: UPDATE: Total 50 Korban Tsunami Banten Dibawa ke Puskesmas Carita

Meski begitu, pasca tsunami yang menerjang pantai kawasan Selat Sunda, operasional penyeberangan dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni berjalan normal.

"Operasional penyeberangan berjalan normal," kata dia.

Sebelumnya BMKG menyatakan bahwa gelombang tinggi yang menerjang pantai di sekitar Selat Sunda adalah tsunami.

Baca juga: Manajemen Ungkap Detik-detik Tsunami Banten Terjang Seventeen Saat Manggung

Hasil pengamatan menunjukkan tinggi gelombang masing-masing 0.9 meter di Serang pada pukul 21.27 WIB, 0,35 meter di Banten pada pukul 21.33 WIB, 0,36 meter di Kota Agung pada pukul 21.35 WIB, dan 0,28 meter pada pukul 21.53 WIB di Pelabuhan Panjang.

Meski menyatakan tsunami, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rachmat Triyono menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada aktivitas seismik di sekitar lokasi gelombang tinggi.

"Jadi masih belum jelas penyebabnya. Apakah mungkin karena aktivitas Krakatau? Kita belum tahu," katanya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (22/12/2018).

Baca juga: Tsunami Banten, 7 dari 256 Peserta Family Gathering PLN Meninggal Dunia

Tsunami kemungkinan disebabkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang akibat bulan purnama.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, dampak tsunami yang menerjang wilayah pantai di kawasan Selat Sunda terus bertambah.

"Data sementara hingga Minggu (23/12/2018) pukul 04.30 WIB tercatat 20 orang meninggal dunia, 165 orang luka-luka, 2 orang hilang dan puluhan bangunan rusak. Data korban kemungkinan masih akan terus bertambah mengingat belum semua daerah terdampak di data," kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Minggu pagi.

Sutopo memaparkan, jumlah korban tersebut terdapat di tiga wilayah yaitu, di Kabupaten Padenglang, Lampung Selatan dan Serang.

Kompas TV Daerah Cilegon, Banten nyaris lumpuh akibat terjangan banjir di sejumlah titik.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X