Kompas.com - 26/12/2018, 14:47 WIB
Direktur Utama PT Phapros Tbk, Barokah Sri Utami di BEI, Jakarta, Rabu (26/12/2018). KOMPAS.com/Ambaranie NadiaDirektur Utama PT Phapros Tbk, Barokah Sri Utami di BEI, Jakarta, Rabu (26/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Phapros Tbk resmi menjadi perusahaan publik tercatat di Bursa Efek Indonesia. Aksi korporasi ini dilakukan untuk memperkenalkan lebih luar perusahaan ke pasar modal. Meski sudah tercatat, untuk sementara waktu perusahaan tersebut belum menerbitkan saham baru maupun obligasi.

Direktur Utama Phapros Barokah Sri Utami mengatakan, setelah melantai di bursa, aksi korporasi mereka berikutnya adalah pengembangan produk dan perusahaan, baik organik maupun anorganik.

"Yang sifatnya organik itu bertumpu pada produk kita yang hanya terkait dengan produk dan alat kesehatan," ujar wanita yang akrab disapa Emmy itu di gedung BEI, Jakarta, Rabu (26/12/2018).

Dia mengatakan, dalam industri farmasi, ada empat pilar yang akan dikembangkan yakni kimia vaksin, produk bioteknologi, dan herbal.

Baca juga: Perusahaan Farmasi Phapros Mulai Garap Pasar Kosmetik dan Makanan

Phapros merupakan salah satu perusahaan yang memiliki fitofarmaka, yaitu obat tradisional dari bahan alami yang disetarakan dengan obat modern karena pembuatannya sesuai standar baku ilmiah. Bahkan, Emmy menyebut produknya bernama Tensigard merupakan fitofarmaka pertama di Indonesia. Obat tersebut berfungsi untuk mengendalikan tekanan darah.

Produk tersebut salah satu yang akan dikembangkan Phapros ke depannya. Kemudian, seiring dengan revolusi industri 4.0, perusahaan tersebut tak hanya bertumpu pada produk konvensional. Mereka mulai melirik produk geoteknologi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami sudah kerjasama dengan Unair untuk memanfaatkan salah satu sel untuk anti aging. Anti aging ini potensi yang sangat besar karena semua orang ingin tetap sehat dan tetap awet muda," kata Emmy.

Sementara untuk pertumbuhan anorganik, Phapros akan melakukan aliansi strategis maupun merger dan akuisisi di perusahan yang verkaitan dengan farmasi. Tahun ini, Phapros mengakuisisi perusahaan farmasi di Bandung, PT Lucas Djaja dan perusahaan entitas anak. Dengan akuisisi tersebut, kapasitas produksi Phapros meningkat signifikan.

Selain itu, Phapros akan melakukan join venture dengan beberapa industri farmasi di Asia Tenggara.

"Inisiatif melakukan akuisisi itu ada, tapi karrna masih dalam tahap evaluasi, kami tidak sebutkan dulu sampai kami berhasil mengakuisisi," kata Emmy.

Adapun capital expenditure (capex) atau belanja modal Phapros tahun depan mencapai Rp 350 miliar. Dia menyebutkan, untuk pendanaan pihaknya akan menerbitkan saham baru.

"Kami harus cari pendanaan yang lebih produktif. Selama ini dilakukan right issue itu perbankan dan non perbankan yang kami lakukan. Tapi untuk mencari pendanaan lebih produktif akan ada prosedur yang kami lakukan," kata Emmy.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.