Kaleidoskop 2018: Gejolak Rupiah, Faktor Eksternal atau Fundamental?

Kompas.com - 26/12/2018, 16:00 WIB

Seiring dengan perbaikan ekonomi AS yang sempat terpuruk akibat krisis tahun 2009, bank sentral AS pun mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.

Selain normalisasi kebijakan ekonomi AS, faktor eksternal lain adalah kondisi ekonomi dunia yang sedang dilanda ketidakpastian lantaran perang tarif pemerintahan Trump terhadap beberapa negara sekutu perdagangannya. Perang dagang terbesar terjadi antara AS dengan China.

Kedua negara saling balas menaikkan tarif masuk produk unggulan masing-masing negara hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan gencatan tarif pada KTT G20 pada akhir November lalu.

Ketika rupiah menembus level Rp 15.000 per dollar AS, Menteri Koordinator Bidang perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan China berimbas pada ketidak stabilan ekonomi global. Dirinya pun meragukan AS dan China bisa kembali rujuk pada kuartal I 2019 mendatang seperti yang diprediksi oleh pasar.


4. Defisit Transaksi Berjalan Membengkak

Meskipun banyak pihak menyatakan pergerakan rupiah terhadap dollar AS sepanjang tahun ini lebih disebabkan faktor eksternal, bukan berarti kondisi fundamental Indonesia yang dianggap kuat sudah cukup baik.

Faktanya, neraca perdagangan dalam negeri sepanjang tahun terus mengalami defisit dan hanya surplus sebanyak tiga kali, yaitu pada Maret 2018 sebesar 1,1 miliar dollar AS, Juni sebesar 1,74 miliar dollar AS, dan di September 2018 sejumlah 0,23 miliar dollar AS.

Teranyar, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan anjlok cukup dalam dari 1,77 miliar dollar AS di Oktober 2018 menjadi 2,05 miliar dollar AS di November 2018.

Neraca perdagangan yang terus defisit pun mendorong neraca berjalan (current account) yang merupakan neraca barang dan jasa juga mengalami defisit yang cukup dalam. Data terakhir bank sentral, hingga kuartal III 2018, defisit transaksi berjalan sebesar 3,37 persen atau setara dengan 8,85 miliar dollar AS, yang terdalam selama tahun 2018.

BI pun memrediksi hingga akhir tahun nanti, dengan neraca perdagangan yang jeblok, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pun akan berada di kisaran 3 persen, dari yang tadinya bisa di bawah 3 persen.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.