BMKG Disarankan Pasang Alat Deteksi Tsunami di Pulau Panjang

Kompas.com - 27/12/2018, 14:16 WIB
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar saat diwancarai di kantor ESDM, Jumat (12/10/2018). -KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMAKepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar saat diwancarai di kantor ESDM, Jumat (12/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM menyarankan BMKG memasang alat pendeteksi tsunami di pulau terdekat Gunung Anak Krakatau.

Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir dampak tsunami bagi masyarakat sekitar.

“Kita sudah memberi masukan kepada mereka (BMKG). Kita sarankan untuk pasang di Pulau Panjang. Apapun yang kejadian di (Gunung Anak) Krakatau, Pulau Panjang kena duluan,” ujar Sekretaris Badan Geologi Antonius Ratdomopurbo di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (27/12/2018).

Purbo menambahkan, di pulau tersebut BMKG bisa memasang alat seperti Bouy dan Tide Gauge. Alat tersebut berguna untuk mendeteksi gelombang tsunami.

Baca juga: Badan Geologi: Gunung Anak Krakatau Tidak dalam Fase Mematikan

“Kita sudah memberi masukan ke BMKG. Yang wajib memasang kan mereka, kita yang memberi masukan. Saran dari kita paling di Pulau Panjang, paling pas,” kata Purbo.

Mengenai alat pendeteksi longsor, Purbo mengakui pihaknya belum mempunyai alat tersebut. Atas dasar itu, untuk meminimalisir dampak tsunami, pihaknya menyarankan BMKG mendeteksi dampak dari longsor Gunung Anak Krakatau.

“Longsoran itu secara ilmu pengetahuan sangat dipahami, tapi secara realitas sulit dideteksi. Kalau kita kesulitan deteksi longsor, ya kita deteksi seawal mungkn efek dari longsor,” ucap dia.

Baca juga: Kelistrikan Daerah Terdampak Tsunami Selat Sunda Sudah 95 Persen Pulih

Sebelumnya, tsunami melanda pantai di sekitar Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) malam. Tsunami tersebut dipicu oleh longsoran bawah laut dan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Data sementara BNPB hingga Rabu (26/12/2018) pukul 13.00 WIB, sebanyak 430 orang meninggal dunia karena kejadian ini. Sementara kerugian ekonomi masih dalam pendataan.

Selain korban meninggal, tercatat 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang. BNPB juga mencatat, ada 21.991 orang yang mengungsi di sejumlah daerah.

Jumlah ini masih sangat mungkin bertambah seiring dengan proses evakuasi yang masih terus dilakukan.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X