BI: Posisi Investasi Internasional RI Relatif Stabil

Kompas.com - 28/12/2018, 07:40 WIB
Gedung Bank Indonesia KOMPAS/WISNU WIDIANTOROGedung Bank Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) melaporkan, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal III-2018 relatif stabil. PII Indonesia pada akhir kuartal III-2018 mencatat neto kewajiban sebesar 297 miliar dollar AS atau 28,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurut BI, angka tersebut relatif sama dengan posisi neto kewajiban pada akhir kuartal sebelumnya. Perkembangan tersebut sejalan dengan peningkatan posisi kewajiban finansial luar negeri (KFLN) yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan posisi aset finansial luar negeri (AFLN).

"Posisi KFLN Indonesia meningkat sejalan dengan masuknya aliran modal asing," jelas BI melalui keterangan di laman resminya, Kamis (27/12/2018).

Baca juga: Ini Strategi BI Antisipasi Lonjakan Transaksi di Akhir Tahun

Pada akhir kuartal III-2018, posisi KFLN naik 1,6 miliar dolar AS atau 0,3 persen (qtq) menjadi 633,6 miliar dollar AS dari yang sebelumnya 632 miliar dollar AS. Peningkatan posisi KFLN tersebut didorong oleh masuknya aliran modal asing, terutama dalam bentuk investasi langsung dan investasi lainnya.

Perkembangan ini merupakan cerminan optimisme terhadap kinerja ekonomi domestik. Peningkatan posisi KFLN lebih lanjut tertahan oleh faktor penguatan dollar AS terhadap rupiah yang berdampak pada penurunan nilai instrumen investasi berdenominasi rupiah.

Sementara itu, terjadi peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) yang didorong oleh transaksi perolehan AFLN dalam bentuk investasi lainnya.

Posisi AFLN pada akhir kuartal-III 2018 naik 0,5 persen (qtq) atau 1,5 miliar dollar AS menjadi 336,6 miliar dollar AS. Selain investasi lainnya, peningkatan posisi AFLN juga ditopang oleh transaksi perolehan aset investasi langsung dan investasi portofolio.

"Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada kuartal III-2018 masih tetap sehat," ujar bank sentral.

Baca juga: Neraca Perdagangan Defisit, BI Sebut Karena Ekonomi Dunia Melandai

Hal ini tercermin dari rasio neto kewajiban PII Indonesia terhadap PDB yang relatif stabil di kisaran rerata negara peers sekitar 29 persen. Di samping itu, struktur neto kewajiban PII Indonesia juga didominasi instrumen berjangka panjang.

"Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko neto kewajiban PII terhadap perekonomian. Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan semakin baik sejalan dengan terjaganya stabilitas perekonomian dan berlanjutnya pemulihan ekonomi Indonesia didukung oleh konsistensi dan sinergi bauran kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan reformasi struktural," pungkas BI.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X