Pantau Anak Gunung Krakatau, ESDM akan Pasang 2 Seismograf

Kompas.com - 28/12/2018, 20:38 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan. KOMPAS.com/NAZAR NURDINMenteri ESDM Ignasius Jonan.

CINANGKA, KOMPAS.com - Sejak ditetapkan menjadi level III (siaga) pada 27 Desember 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menyampaikan bahwa peningkatan status ini didasarkan pada hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental.

Seismograf yang terletak di Pulau Gunung Anak Krakatau terdampak aktivitas vulkanik tanggal 22 Desember 2018 lalu. Oleh karena hal itu sebut Jonan, pihaknya akan segera memasang seismograf di 2 titik di pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.

“Seismograf tersebut mengalami 3 kali pergantian sejak meningkatnya aktivitas gunung Anak Krakatau Juli 2018 karena beberapa kali terkena dampak erupsi,” tuturnya.

Baca juga: Jonan: Ini Pertama Kali Ada Tsunami Tanpa Gempa

Jonan menjelaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang besar sekitar bulan September lalu, dibandingkan dengan bulan Desember ini relatif lebih kecil sekitar seperempatnya.

Terkait jalur penerbangan, Jonan menyatakan, masih aman. Karena ketinggian abu sekitar 500-700 meter sedangkan penerbangan 5.000-10.000 meter.

" Kementerian ESDM akan terus berkordinasi dengan BPPT, LIPI dan BMKG untuk mempelajari tsunami kemarin akibat karena apa saja. Terkait sharing pengetahuan dan informasi, termasuk dengan negara-negara lain seperti Amerika, Jepang, Perancis, karena kegeologian bersifat global," tambah Jonan.

Lebih lanjut, Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar menyampaikan bahwa sebanyak 6 orang, termasuk vulkanologis dan teknisi dikirim dari Bandung. Hal itu mengingat kondisi Anak Krakatau berstatus siaga sehingga diperlukan perhatian lebih.

"Kondisi sekarang masih ada letusan dan beberapa kali tremor yang terpantau dari seismograf yang dipasang di Pulau Sertung," ungkap Rudy.

Peralatan yang tersedia di pos pengamatan antara lain berupa penunjuk arah mata angin untuk memonitor pergerakan abu vulkanis, CCTV untuk memantau secara visual gunung, infrasonik dan seismograf sebanyak 2 buah dengan dua jenis keakuratan yang ditempatkan di Pulau Sertung.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018). Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi eksplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava.

Pada tahun 2016 letusan terjadi pada 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi pada tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Sejak tanggal 29 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau kembali mengeluarkan letusan hingga tanggal 22 Desember berupa letusan strombolian.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X