Futurism #6: Temukan Waldo! Saat Mesin AI Merekomendasikan Masa Depan - Kompas.com

Futurism #6: Temukan Waldo! Saat Mesin AI Merekomendasikan Masa Depan

Kompas.com - 29/12/2018, 07:00 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

SAAT masih tinggal di keluarga angkat saya di Vancouver Island dalam sebuah program pertukaran mahasiswa, saya ingat betul keluarga ini mengoleksi buku teka-teki bergambar berjudul “Where is Waldo”.

Saya yakin sebagian besar pembaca tahu seperti apa teka-teki bergambar itu. Dalam satu buku bisa ada lebih dari 20 halaman gambar kerumuman orang-orang di pasar, di pantai, di stasiun kereta api, dan banyak tempat lainnya.

Ini teka-teki bergambar full color. Tugas kita hanya satu di setiap halaman: temukan orang bernama Waldo dengan ciri khas visual baju, topi, kacamata, dan postur yang sangat khas, intinya sosoknya mudah diingat.

Instruksinya jelas sekali: temukan di mana Waldo. Sejatinya, perlu waktu yang tak sebentar untuk menemukannya di kerumunan banyak orang yang bajunya juga sama warna-warninya dengan Waldo. Tegang, tapi seru sekali!

Buku bergambar ini sempat beredar di Indonesia, tapi sekarang sulit sekali dicari, bahkan buku bekasnya.

Baca juga: Korea dan Vietnam Garap Hotel “Artificial Intelligence

Sekarang menemukan Waldo tak sesulit dulu. Versi digitalnya pun sudah ada, dan sudah bisa dimasukkan dalam program machine learning (ML) di komputer.

Ciri khas visual Waldo disodorkan sebagai bahan baku pembelajaran bagi protokol ML, lalu setelah divalidasi bahwa ‘data tentang Waldo’ sudah masuk ke indera ML, maka biarkan protokol ML menemukan Waldo untuk anda. Voila! Tak sampai 10 detik!

Kecerdasan buatan yang memementahkan seluruh strategi.

Teknologi artificial intelligence ( AI) untuk mengenali ciri visual dan audio sudah sedemikian canggih. Beberapa perkantoran di Silicon Valley sudah menerapkan pengenalan kontur wajah melalui CCTV untuk membedakan mana pegawai mana pengunjung.

Protokol keamanan di berbagai instansi kepolisian dunia pun sudah menerapkannya untuk mencari orang-orang yang masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) dari berbagai kerumunan di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun kereta, pelabuhan, pusat perbelanjaan, pasar, dan tempat-tempat publik lainnya.

Cara kerjanya sangat sederhana, meski teknologinya rumit. Mesin AI akan diberi input (diajari) berbagai informasi mengenai sosok seseorang, dari foto dan video wajahnya yang terkumpul di jutaan situs internet termasuk media sosial, mencocokkan akun-akun medsos yang ia ikuti, mencari konsistensi data dan informasi antar akun, lalu dalam sekejap mesin AI akan merangkumnya menjadi sebuah file tentang orang itu (sebut saja ‘subject’).

Dalam perkembangannya, mesin AI ini tak hanya melakukan tugas ‘find the subject’, tetapi lebih daripada itu, ia melakukan tugas super rumit lainnya seperti mempelajari pola perilaku serta preferensinya di masa lalu, dengan siapa saja ia sering berinteraksi, kemana saja ia biasa bepergian, di hotel mana atau klub mana saja, berbelanja dengan kartu kredit yang mana, ataupun berapa lama ia berada di sana.

Mesin ini – cenayang digital ini – sedang meramalkan apa yang orang tersebut akan lakukan atau hadapi, atau situasi seperti apa di masa mendatang yang akan ia temui.

Dunia tanpa kejutan

Lalu, dunia seperti apa yang akan kita tinggali di masa depan bila apa yang akan kita lakukan sudah diketahui sebelumnya oleh sebuah ‘mesin’ yang mungkin dimiliki oleh ribuan pihak lain?

Persaingan bisnis seperti apa yang akan kita lihat nanti saat tak ada lagi yang namanya kejutan-kejutan pemasaran, strategi diferensiasi produk, penetrasi pasar, atau taktik bisnis apapun bila kecenderungan-kecenderungan untuk itu sudah diprediksikan secara nyaris akurat oleh sebuah mesin?

Di pasar tenaga kerja, apalah artinya melamar pekerjaan dengan resume yang aduhai bila calon employer sudah tahu siapa kita dan kecenderungan apa yang bakal kita timbulkan bila kita direkrut?

Baca juga: Pentagon Terungkap Khawatir Perkembangan Artificial Intelligence

Hal inilah yang menjadi kegundahan masyarakat di sebuah kota metropolitan di Amerika. Opsir John Anderton yang bekerja di sebuah divisi kepolisian bernama pre-crime pun merasakan hal yang sama. Teknologi di kepolisian telah berhasil meniadakan tindak kriminal apapun dalam enam tahun terakhir. Nol. Zero case!

Teknologi yang dikombinasikan dengan tiga mutan yang memiliki kemampuan meramal, disebut sebagai precog, mampu menangkap para penjahat bahkan sebelum kejahatan terjadi. Kedengaran seperti kisah imajiner, fantasi masa depan. Namun cerita tak berhenti di situ.

Dari tiga precog yang meramal, kadang ada salah satu yang ramalannya berbeda dengan dua precog yang lain. Precog ini mencoba meramalkan sebuah kemungkinan masa depan alternatif, atau kita kenal dengan situasi ‘what if’.

Celakanya, dalam ramalan tentang masa depan alternatif itu, Opsir John Anderton diramalkan akan membunuh seseorang yang bahkan ia tak kenal. Koleganya, opsir Danny Witwer ditugaskan untuk menangkap Opsir John Anderton yang segera kabur sejak dirinya masuk dalam DPO.

Science has stolen most of our miracles…” demikian Opsir Danny Witwer menggerutu dalam perburuannya terhadap Opsir John Anderton.

Waspada, tanpa harus paranoid

Apa jadinya bila mesin-mesin AI memberikan protokol dan rekomendasi yang jauh lebih baik, lebih akurat, dan lebih masuk akal ketimbang cara konvensional yang dilakukan oleh para peramal masa depan dan para konsultan transformasi bisnis?

Kisah Opsir John Anderton di film Minority Report (2002) memberikan gambaran masa depan yang tak lama lagi mungkin menjadi kenyataan.

Kecenderungan ‘immediate minutes’ dari orang-orang sudah dipetakan oleh mesin-mesin AI yang tak semuanya memberikan satu gambaran serupa, tapi beberapa bahkan mampu memberikan kemungkinan masa depan alternatif yang berbeda.

Bila saat itu tiba, AI – kecerdasan buatan – akan menjadi seperti yang dikhawatirkan Elon Musk, bilioner pendiri Tesla dan Space-X, bahwa ekses tak terkendali AI berisiko lebih besar ketimbang ancaman Korea Utara, dan secara fundamental berisiko atas punahnya umat manusia.

Menurut hemat saya, pandangan itu terlampau jauh. Tantangan terdekat kita adalah saat mesin-mesin AI berkonspirasi untuk mencari alternatif pembelajaran, tak lagi bergantung dari input data dan informasi dari kita.

Baca juga: Di Garis Depan Industri 4.0, UMN Resmikan Lab Artificial Intelligence

Dan lagi-lagi bila saat itu tiba, para industrialis dan pengusaha lebih menyukai ‘memelihara’ puluhan GPU (graphic processing unit) yang menopang mesin-mesin AI dan algoritma logikanya ketimbang mendengarkan pertimbangan-pertimbangan moral, governance dan potensi sosial dari ribuan bisnis mereka yang mungkin kantor pusatnya ada di dunia maya.

Immediate minutes itu sudah di depan kita. Kita tak bisa menghindarinya. Dalam film Minority Report tersebut, dalam pelariannya John Anderton meminta nasihat dari Dr Irish Hineman, pencipta teknologi pre-crime, bagaimana ia bisa keluar dari ‘ramalan visual masa depan’ para pre-cog.

Tujuannya hanya satu, membersihkan namanya. “John, sometimes, in order to see light, you have to risk the dark.

Tepat sekali, kita hanya bisa menyambut era itu, karena kita sudah dikelilingi oleh smartphone, smart office dan smarthome. Apa gunanya smart city bila kita tetap saja dumb citizen?

Dan saya pun masih sibuk mencari tahu di mana Waldo…..

 



Close Ads X