Rugi 6 Tahun Berturut-turut, Krakatau Steel Gencar Restrukturisasi

Kompas.com - 04/01/2019, 12:35 WIB
Pegawai Krakatau Steel memantau pembuatan lembaran baja panas di Cilegon, Banten, Jumat (24/4/2015). Cilegon sebagai kota industri banyak menarik investor berkat kelengkapan infrastruktur, seperti jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai penghasil baja. KOMPAS/DWI BAYU RADIUSPegawai Krakatau Steel memantau pembuatan lembaran baja panas di Cilegon, Banten, Jumat (24/4/2015). Cilegon sebagai kota industri banyak menarik investor berkat kelengkapan infrastruktur, seperti jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai penghasil baja.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mengaku tengah gencar malakukan restrukturasi untuk menangani kerugian perusahaan yang telah terjadi selama enam tahun berturut-turut.

Dalam paparan publik (public expose) yang dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/1/2019), Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, hingga kuartal III-2018, kerugian yang harus ditanggung perusahaan dengan kode emiten KRAS tersebut masih sebesar 37 juta dollar AS.

Angka tersebut sudah berkurang 50,19 persen jika dibandingkan dengan kerugian di periode yang sama tahun lalu yang mencapai 75 juta dollar AS.

Baca juga: BUMN Karya Gandeng Krakatau Steel untuk Pasok Baja

Restrukturisasi yang dilakukan oleh perseroan, jelas Silmy, merupakan restrukturisasi fundamental bisnis perusahaan. Sehingga di tahun 2019, diharapkan KRAS bisa mencetak laba.

"Kita sedang mengupayakan laba. Tapi yang pasti fundamental bisnisnya dulu industrinya rapi. Kita usahakan baik di tiga bulan pertama (dirinya menjadi direktur utama) maupun di awal tahun 2019," jelas Silmy dalam paparan publik tersebut.

Perbaikan fundamental bisnis tersebut, jelas Silmy, meliputi perbaikan sisi distribusi serta rantai suplai perusahaan, selain itu juga restrukturisiasi organisasi bisnis. Saat ini, KRAS juga tengah gencar mencari partner strategis untuk mengembangkan bisnisnya.

Baca juga: Perusahaan Patungan Krakatau Steel Investasi 300 Juta Dollar AS

"Kalau ingin berkembang itu, salah satu dari strategic partner, dukungan perbankan, dengan dukungan investor. Ini kita sedang tata satu per satu," jelas Silmy.

Silmy mengaku selama ini cukup berat untuk bisa mendorong peningkatan penjualan baja di dalam negeri. Hal ini yang menurutnya menjadi pemicu defisit neraca perdagangan baja.

Pasalnya, Krakatau Steel juga harus bersaing dengan berbagai produk baja impor yang tidak terkena bea masuk serta pajak akibat diberlakukannya peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2018 yang menghapus persyaratan impor yang semula ada di Permendag Nomor 82 Tahun 2016 serta pemeriksaan melalui post border.

"Industri baja nasional ini dalam kurun waktu dua tahun terakhir ke belakang, tiga tahun bahkan, itu terpuruk. Ditahun terakhir itu dengan adanya Permendag 22 itu bebas impor tanpa melalui pengecekan bea cukai, itu udah sangat berbahaya," ujar Silmy.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keukeuh Minta Kenaikan Upah, KSPI Bandingkan dengan Zaman Habibie

Keukeuh Minta Kenaikan Upah, KSPI Bandingkan dengan Zaman Habibie

Whats New
DPR: Kunjungan PM Jepang Harus Bisa Dimanfaatkan Pengusaha Nasional

DPR: Kunjungan PM Jepang Harus Bisa Dimanfaatkan Pengusaha Nasional

Whats New
PGN Pastikan Pengerjaan Pembangunan Pipa Rokan Selesai Tepat Waktu

PGN Pastikan Pengerjaan Pembangunan Pipa Rokan Selesai Tepat Waktu

Rilis
Jika Tak Ada Penemuan Baru, Minyak Bumi Indonesia Akan Habis dalam 9 Tahun

Jika Tak Ada Penemuan Baru, Minyak Bumi Indonesia Akan Habis dalam 9 Tahun

Whats New
Soal UU Cipta Kerja, KSPI: Mudah-mudahan DPR Tidak 'Kucing-kucingan' Lagi...

Soal UU Cipta Kerja, KSPI: Mudah-mudahan DPR Tidak "Kucing-kucingan" Lagi...

Whats New
Efisiensi Anggaran Proyek Pipa Minyak Blok Rokan Capai Rp 2,1 Triliun

Efisiensi Anggaran Proyek Pipa Minyak Blok Rokan Capai Rp 2,1 Triliun

Rilis
Pengetahuan Teknologi hingga Internet jadi Persoalan Digitalisasi UMKM

Pengetahuan Teknologi hingga Internet jadi Persoalan Digitalisasi UMKM

Whats New
Sri Mulyani Sebut Pemerintah Bakal Dukung Pembiayaan Startup, Ini Penjelasannya

Sri Mulyani Sebut Pemerintah Bakal Dukung Pembiayaan Startup, Ini Penjelasannya

Whats New
Ekonom: Sektor riil Paling Belum Siap Hadapi Digitalisasi

Ekonom: Sektor riil Paling Belum Siap Hadapi Digitalisasi

Whats New
Turun Signifikan dalam Beberapa Pekan, Saham IKAN Masuk Pengawasan Bursa

Turun Signifikan dalam Beberapa Pekan, Saham IKAN Masuk Pengawasan Bursa

Rilis
BI: Sistem Pembayaran Digital Berperan Penting dalam Pemulihan Ekonomi

BI: Sistem Pembayaran Digital Berperan Penting dalam Pemulihan Ekonomi

Whats New
Penjualan Emas Antam Melonjak 147 Persen pada Kuartal III-2020

Penjualan Emas Antam Melonjak 147 Persen pada Kuartal III-2020

Whats New
Sri Mulyani Soroti Ketimpangan Digitalisasi di Indonesia

Sri Mulyani Soroti Ketimpangan Digitalisasi di Indonesia

Whats New
Pansus KBN Tinjau Pelabuhan Marunda, KCN: Menunggu Rekomendasi Terbaik

Pansus KBN Tinjau Pelabuhan Marunda, KCN: Menunggu Rekomendasi Terbaik

Whats New
Ekonomi RI Bisa Pulih Cepat Dibandingkan Singapura dan AS, Mengapa?

Ekonomi RI Bisa Pulih Cepat Dibandingkan Singapura dan AS, Mengapa?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X