Taiwan Tuding Agen Tenaga Kerja Sebar Isu Kerja Paksa Mahasiswa Indonesia

Kompas.com - 04/01/2019, 15:56 WIB
Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) John C. Chen (Tengah) saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/1/2019) Kompas.com/YOGA SUKMANAKepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) John C. Chen (Tengah) saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/1/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Taiwan melalui kantor perwakilannya di Indonesia, Taipei Economic and Trade Office (TETO), menuding ada biang kerok di balik tersebarnya isu kerja paksa mahasiswa Indonesia di Taiwan.

Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) John C. Chen membantah ada praktik kerja paksa yang menimpa mahasiswa Indonesia di Taiwan dalam Program Magang Industri-Universitas.

"Program ini baru berjalan dua tahun. Pada tahun pertama diakui pemerintah dan universitas dan siswa tidak berpengalaman dengan program tersebut sehingga ada yang dimanfaatkan agen (penyalur tenaga kerja)," ujarnya di Kantor TETO, Jakarta, Jumat (4/1/2019).

Seiring berjalannya waktu kata Chen, Pemerintah Taiwan mendengar adanya masalah. Oleh karena itu, semua hal yang terkait dengan mahasiswa Indonesia itu tidak boleh lagi melalui agen tenaga kerja, namun langsung ke TETO.

Baca juga: Pemerintah Taiwan Bantah Ratusan Mahasiswa RI Jalani Kerja Paksa

"Ini yang akibatkan agen tidak suka sehingga membuat berita-berita negatif," kata dia.

Menurut Chen, program Program Magang Industri-Universitas di Taiwan merupakan program beasiswa untuk mahasiswa Indonesia kurang mampu yang ingin belajar di Taiwan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Soal adanya laporan brosur universitas yang tak sesuai dengan realitas di Taiwan, TETO mengatakan akan melakukan investigasi. Dikhawatirkan brosur itu dibuat oleh agen penyalur tenaga kerja.

"Kalau memang benar, tolong TETO diinformasikan untuk investigasi lebih lanjut," kata dia.

Sebelumnya seperti diberitakan South China Morning Post dan Taiwan News, seorang politisi Taiwan membeberkan pengakuan bahwa ratusan pelajar Indonesia menjalani kerja paksa di pabrik Taiwan.

Media Taiwan, mengutip ucapan politisi Kuomintang Ko Chih-en, melaporkan, para pelajar itu hanya masuk kelas dua hari dalam sepekan.

Kemudian mereka menghabiskan empat hari di pabrik menjadi buruh dengan tugas mengemas 30.000 lensa kontak selama 10 jam per sif.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.