Rupiah Menguat ke Rp 14.024, Chatib Basri Ingatkan Pemerintah Tak Terlena

Kompas.com - 07/01/2019, 13:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS Senin (7/1/2019) terus menguat dengan signifikan hingga ke kisaran 14.000.

Di pasar spot Bloomberg, rupiah tercatat diperdagangkan di level Rp 14.024 per dollar AS pada pukul 12.47 WIB. Angka tersebut menguat 246 poin atau 1,72 persen dari penutupan perdagangan pada Jumat (4/1/2019) lalu yang sebesar Rp 14.270 per dollar AS.

Sementara pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dibuka pada level Rp 14.177,8.

Adapun nilai tukar rupiah pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini berada di posisi Rp 14.105 per dollar AS.  Posisi ini naik 1,70 persen dibanding Jumat pekan lalu pada 14.350.

Baca juga: Awali Pekan, Rupiah Menguat ke Rp 14.090 Per Dollar AS

Terkati penguatan ini, mantan Menteri Keuangan M Chatib Basri mengingatkan agar pemerintah dan pelaku pasar tak terlena.

Chatib mengatakan, di tengah kondisi seperti saat ini, berbagai upaya untuk memperdalam pasar keuangan tetap perlu dilakukan agar peran dari investor lokal menjadi lebih dominan. Sebab, selama ini Indonesia masih sangat bergantung pada arus modal asing yang sangat bergantung pada sentimen pasar.

Menguatnya rupiah terhadap dollar AS hari ini, lebih disebabkan karena sentimen dari pidato Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell yang mentakan Federal Reserve atau The Fed akan 'bersabar' dalam menaikkan bunga.

"Dugaan saya arus modal masuk, akan kembali terjadi dan pasar keuangan akan bergairah. Namun saya ingin mengingatkan sejak dini. Arus modal ini satu hari akan kembali lagi keluar krn sifatnya hot money," ujar Chatib seperti dikutip Kompas.com melalui akun twitternya.

Chatib menjelaskan, bukan tidak mungkin situasi yang terjadi seperti di 2018 lalu, di mana rupiah sempat menembus angka Rp 15.000 per dollar AS bisa berulang. Sebab, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga lagi juga masih ada.

Berbagai kebijakan makroprudensial seperti Jika Fed kemudian kembali lagi menaikkan bunga dengan cepat, maka situasi 2018 akan berulang.

Dia menyarankan, regulator untuk menerapkan tobin tax yang merupakan pajak dalam pasar uang spot untuk 'menghukum' spekulasi pada nulai tukar mata uang jangka pendek untuk mengendalikan stabilitas mata uang, reverse ton tax ,atau aturan lain untuk mengatasi gejolak arus modal.

"Tanpa ini, situasi 2018 akan berulang. Saya ingat satu obrolan dengan ekonom Carmen Reinhart di Harvard beberapa tahun lalu: 3 kata yang paling berbahaya adalah this time is different. Dan policy maker cenderung berkata itu pada saat arus modal masuk," ujar Chatib

"Saatnya bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan dengan menganggap bahwa arus modal yang masuk, rupiah yang menguat, pasar keuangan yang bergairah ini berbeda dengan yang lalu. This is (not) different," lanjut dia.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.