Menguat ke Rp 14.090 Per Dollar AS, BI Nilai Rupiah Masih "Undervalued" - Kompas.com

Menguat ke Rp 14.090 Per Dollar AS, BI Nilai Rupiah Masih "Undervalued"

Kompas.com - 07/01/2019, 15:21 WIB
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah di Jakarta, Kamis (27/9/2018).KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah di Jakarta, Kamis (27/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah yang saat ini berasa pada posisi Rp 14.090 per doar AS pada pukul 15.00 WIB di pasar spot Bloomberg masih undervalued atau belum sesuai dengan nilai fundamentalnya. Bahkan hari ini, rupiah juga sempat diperdagangkan di level Rp 14.021 per dollar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menjelaskan, menguatnya rupiah hari ini lebih disebabkan sentimen positif dari kesepakatan perang dagang, perubahan sikap Bank Sentral Amerika Serikat, dan berbagai perkembangan data ekononomi.

"(Rupiah) masih undervalued," ujar Nanang ketika dihubungi Kompas.com, Senin (7/1/2019).

Nanang menegaskan, BI tetap memberikan ruang bagi Rupiah untuk menguat dan mengawal penguatan tersebut termasuk dengan membuka lelang Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pada pukul 8.30 WIB.

Lelang tersebut kemudian dilanjutkan dengan intervensi bilateral melalui 8 broker.

"Meningkatnya aktivitas BI di pasar DNDF, selain untuk memastikan kurs offshore NDF terkendali, juga sebagai dukungan penun bagi berkembangnya pasar DNDF agar lebin likuid dan efisien," ujar Nanang.

Hingga saat ini, BI mencatat terdapat 13 bank yang aktif di pasar interbank DNDF, sejumlah investor asing bertransaksi untuk hedging investasi di saham, dan sejumlah korporasi termasuk satu BUMN sudah melakukan transaksi. Selain dalam dollar AS-rupiah, transaksi DNDF nasabah juga sudah ada yang melakukan dalam yen-rupiah dan euro-rupiah.

"Bila transaksi DNDF ini terus berkembang dan banyak digunakan untuk hedging makan akan membantu men "smoothing" pembelian valas di dalam negeri, sehingga Rupiah bisa lebih stabil," ujar Nanang.



Close Ads X