Menaker Ikut Komentari Dugaan Mahasiswa Dipekerjakan di Taiwan - Kompas.com

Menaker Ikut Komentari Dugaan Mahasiswa Dipekerjakan di Taiwan

Kompas.com - 08/01/2019, 13:36 WIB
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Muhammad Hanif Dhakiri memberi keterangan di Hotel Bidakara, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (8/1/2019).KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGA Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Muhammad Hanif Dhakiri memberi keterangan di Hotel Bidakara, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (8/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Muhammad Hanif Dhakiri, ikut bersuara terkait kabar dugaan 300 mahasiswa asal Indonesia disuruh kerja paksa di Taiwan.

"Itu penipuan. Penipuan ya diproses aja," kata Hanif ditemui di Hotel Bidakara, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (8/1/2019).

(Baca: Pemerintah Taiwan Bantah Ratusan Mahasiswa Indonesia Jalani Kerja Paksa)

Hanif mengatakan, keberangkatan dan keberadaan mahasiswa Indonesia di Taiwan itu tidak melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) dan tidak melalui universitas. Sehingga tidak ada kaitannya dengan lembaganya.

"Kan, jadi berarti tukang tipu. Intinya program itu (magang Kemenristekdikti dan universitas di Taiwan) sementara dihentikan," ujarnya.

Ratusan mahasiswa Indonesia berada di Taiwan tangah menjalani proses pemagangan. Ini berkat kerja sama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan (Kemenristekdikti) dengan universitas di sana.

Hanif menyatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan atas informasi ini melalui koordinasi dengan instasi-instansi terkait.

"Tapi sambil masing-masing nanti untuk kementerian melakukan pengecekkan. Kami di Kementerian Tenaga Kerja juga melakukan pengecekkan," tambahnya.

Kendati demikian, Hanif belum membeberkan sejauh mana proses pendalaman dugaan mahasiswa disuruh kerja paksa.

Diberitakan sebelumnya, seorang politisi Taiwan membeberkan pengakuan bahwa ratusan pelajar Indonesia menjalani kerja paksa di pabrik Taiwan.

Media Taiwan, mengutip ucapan politisi Kuomintang Ko Chih-en, melaporkan, para pelajar itu hanya masuk kelas dua hari dalam sepekan.

Kemudian mereka menghabiskan empat hari di pabrik menjadi buruh dengan tugas mengemas 30.000 lensa kontak selama 10 jam per sif.

Dilaporkan SCMP pada Kamis (3/1/2019), mereka bekerja dari pukul 07.30 hingga 19.30 waktu setempat dengan hanya 2 jam istirahat.

"Meski kebanyakan dari para pelajar Indonesia adalah Muslim, yang mengagetkan mereka mendapat makanan yang mengandung babi," terang Ko.



Close Ads X